Khutbah Jumat

Semangat Hijrah

Meninggalkan Maksiat Menuju Ketaatan

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنَسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Selanjutnya, kita patut bersyukur karena Allah ﷻ masih memberikan kita nikmat umur untuk memasuki tahun baru Hijriah ini. Perlu ana sampaikan bahwa momentum awal bulan Muharram ini sangat identik dengan peristiwa sejarah hijrahnya Rasulullah ﷺ. Namun, kita harus memahami bahwa esensi hijrah bukan hanya perpindahan tempat secara fisik dari Makkah ke Madinah. Sebaliknya, makna hijrah yang paling mendasar bagi kita saat ini adalah melakukan perubahan spiritual secara total. Oleh karena itu, mari kita jadikan tahun baru ini sebagai tonggak awal untuk bangkit memperbaiki diri.

Hakikat Kebasahan Makna Hijrah Spiritual

Di sisi lain, setiap mukmin wajib menyadari bahwa tantangan terbesar dalam hidup adalah melawan hawa nafsunya sendiri. Seseorang yang membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kemaksiatan sebenarnya sedang berjalan menuju kerugian yang sangat nyata. Oleh sebab itu, perubahan arah hidup dari jalan kegelapan menuju cahaya ketaatan harus segera kita eksekusi. Allah ﷻ menjanjikan keluasan rahmat bagi siapa saja yang mau berbenah dan kembali ke jalan-Nya yang lurus.

Allah ﷻ menegaskan kewajiban untuk berpindah dari lingkungan yang buruk menuju keridhaan-Nya dalam Al-Qur’an:

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak (QS. An-Nisa: 100).

Maka dari itu, marilah kita bangun tekad yang kuat di dalam dada untuk meninggalkan segala kebiasaan buruk yang lalu. Kita tentu sangat mendambakan keselamatan sejati saat menghadap Sang Khaliq di akhirat kelak.

Ciri Muhajir Sejati Menurut Bimbingan Rasulullah ﷺ

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memberikan batasan yang sangat jelas mengenai profil seorang pelaku hijrah yang sesungguhnya. Kebanyakan orang mungkin mengira bahwa kesempatan berhijrah telah tertutup setelah peristiwa pembebasan kota Makkah berakhir. Padahal, pintu hijrah dalam bentuk menjauhi segala larangan Allah ﷻ akan terus terbuka hingga hari kiamat tiba. Oleh karena itu, fokus utama kita sekarang adalah membersihkan batin dari noda-noda kemaksiatan harian.

Abdullah bin Amr bin Al-Aas رضي الله عنهما meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ mengenai esensi sejati dari ibadah ini:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim yang sejati adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu, mari kita cerminkan nilai hadits mulia ini dalam interaksi sosial dan ibadah pribadi kita sehari-hari. Kemurnian iman seseorang terbukti saat ia mampu menahan diri dari menyakiti sesama muslim dan melanggar hukum syariat.

Konsistensi Berbenah Menuju Ridha Ilahi

Kemudian, kita harus memahami bahwa proses perpindahan dari maksiat menuju ketaatan membutuhkan kesabaran yang ekstra kuat. Seseorang terkadang menghadapi godaan dari teman pergaulan lama yang berusaha menariknya kembali ke kubangan dosa. Oleh karena itu, carilah lingkungan baru yang shalih agar semangat istiqamah kita tetap terjaga dengan baik. Langkah kecil yang kita lakukan secara konsisten jauh lebih berharga daripada perubahan besar yang hanya bertahan sesaat.

Ingatlah selalu bahwa Allah ﷻ senantiasa membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang mau mengetuknya dengan tulus. Maka dari itu, jangan pernah merasa berputus asa dari rahmat Allah ﷻ meskipun tumpukan dosa kita setinggi langit. Semoga sisa umur yang kita miliki di tahun baru ini penuh dengan keberkahan dan produktivitas amal kebaikan. Akhirnya, marilah kita tutup lembaran kelam masa lalu dengan memperbanyak istighfar dan perbaikan diri secara nyata.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,

Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan awal tahun 1448 H ini sebagai momentum emas untuk melakukan reformasi akhlak pribadi. Kita tidak boleh membiarkan waktu kita terbuang tanpa adanya peningkatan kualitas ketakwaan kepada Sang Pencipta. Selanjutnya, marilah kita perbaiki kualitas shalat lima waktu kita agar menjadi perisai kokoh dari perbuatan keji. Oleh sebab itu, mari kita saling menggenggam tangan dalam kebaikan demi tegaknya syiar Islam di masyarakat.

Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Allah yang Maha Lembut agar menerima taubat kita semua.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِر|ْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْر|ِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَالْأَخْلَاقِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالbagْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger