Al-Quran

Larangan Ghibah, Fitnah, dan Namimah

Menjaga Kesucian Puasa Ramadhan

Menjaga lisan merupakan pilar penting dalam menyempurnakan ibadah puasa seorang Muslim. Di samping itu, momen Ramadhan menuntut kita untuk lebih waspada terhadap penyakit lisan seperti ghibah, fitnah, dan namimah. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan peringatan keras agar setiap Mukmin menjauhi perilaku buruk tersebut guna meraih derajat takwa yang hakiki.

Bahaya Ghibah dalam Al-Qur’an

Secara mendasar, ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain yang tidak ia sukai meskipun hal itu benar adanya. Selain itu, Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah, yaitu seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka dari itu, bulan suci ini harus kita isi dengan zikir daripada menggunjing sesama.

Allah ﷻ berfirman dalam ayat-Nya:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Fitnah dan Namimah yang Merusak Persaudaraan

Selanjutnya, kita harus sangat berhati-hati terhadap namimah atau perilaku mengadu domba antarmanusia. Tentu saja, namimah dapat menghancurkan ikatan silaturahmi yang telah terbangun dengan kuat selama bertahun-tahun. Di samping itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa pelaku adu domba mendapatkan ancaman serius berupa terhalangnya mereka dari pintu surga.

Diriwayatkan dari Hudzaifah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menjaga Kualitas Puasa dari Penyakit Lisan

Bukan hanya sekadar menahan haus, namun puasa yang berkualitas mengharuskan kita meninggalkan perkataan dusta dan fitnah. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah ﷻ tidak memerlukan puasa seseorang jika ia masih gemar menyakiti orang lain dengan lidahnya. Oleh sebab itu, diam adalah benteng pertahanan terbaik bagi seorang Muslim selama menjalani hari-hari di bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah melakukannya, maka Allah tidak butuh padanya untuk meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari).

Ancaman bagi Penyebar Berita Bohong

Supaya lingkungan sosial tetap harmonis, maka kita harus memastikan kebenaran setiap informasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Memang benar bahwa fitnah atau menuduh tanpa bukti jauh lebih kejam daripada pembunuhan secara fisik. Tentu saja, seorang Mukmin sejati akan selalu menyaring setiap ucapannya agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar. (HR. Muslim).

Kesimpulan

Pada akhirnya, kesucian bulan Ramadhan akan semakin terpancar jika kita mampu mengendalikan lisan dari ghibah, fitnah, dan namimah. Melalui penjagaan kata-kata yang baik, maka kita dapat meraih pahala puasa secara utuh dan sempurna. Oleh karena itu, marilah kita jadikan bulan mulia ini sebagai sarana untuk memperbaiki akhlak dan mempererat tali persaudaraan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger