Sambutan Kaum Anshar di Madinah
Kegembiraan Terbesar dalam Sejarah Islam
Kedatangan Rasulullah ﷺ ke kota Madinah merupakan momen yang paling dinantikan oleh penduduk Yatsrib. Setelah bertahun-tahun mendengar kabar kenabian dari kejauhan, akhirnya mereka dapat melihat wajah Nabi ﷺ secara langsung. Oleh sebab itu, suasana kota Madinah berubah menjadi penuh haru dan kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kerinduan Penduduk Madinah di Gerbang Kota
Setiap pagi, kaum Anshar keluar menuju pinggiran kota di daerah Al-Harrah untuk menunggu kedatangan rombongan hijrah. Mereka tetap berdiri di bawah terik matahari hingga waktu dzuhur tiba dan panas menyengat memaksa mereka pulang. Penantian panjang ini akhirnya berujung manis ketika seorang laki-laki Yahudi berteriak mengabarkan bahwa rombongan Nabi ﷺ telah terlihat.
Mendengar seruan tersebut, kaum Muslimin segera berlarian mengambil senjata mereka sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan. Mereka menyambut Rasulullah ﷺ di Quba sebelum akhirnya beliau melanjutkan perjalanan menuju jantung kota Madinah. Kegembiraan terpancar dari setiap wajah penduduk, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang menyanyikan pujian atas kehadiran beliau ﷺ.
Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan suasana hari yang sangat istimewa tersebut:
لَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المَدِينَةَ أَضَاءَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ
Pada hari ketika Rasulullah ﷺ masuk ke Madinah, segala sesuatu di kota itu menjadi terang benderang. (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi).
Berebut Memberikan Tempat Tinggal bagi Nabi ﷺ
Saat Rasulullah ﷺ memasuki kota, setiap kabilah Anshar menghadang unta beliau dan memohon agar beliau ﷺ sudi singgah di rumah mereka. Mereka menawarkan kemuliaan, harta, dan perlindungan total demi mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah bagi utusan Allah ﷻ. Namun, dengan penuh kebijaksanaan, Nabi ﷺ meminta mereka untuk membiarkan untanya berjalan sesuai dengan petunjuk Allah ﷻ.
Unta tersebut akhirnya berhenti di sebuah lahan kosong milik dua anak yatim yang kemudian menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ kemudian memilih untuk tinggal sementara di rumah Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه karena posisinya yang paling dekat. Kerelaan kaum Anshar untuk berbagi segala hal dengan kaum Muhajirin merupakan bentuk iman yang sangat tinggi.
Allah ﷻ memuji kemuliaan hati kaum Anshar dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (Al-Hasyr: 9)
Persaudaraan yang Menguatkan Dakwah
Oleh karena itu, sambutan luar biasa ini menjadi fondasi awal terbentuknya masyarakat Islam yang solid di Madinah. Rasulullah ﷺ segera mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar untuk menghapus sekat-sekat kesukuan yang lama. Tindakan ini menciptakan persatuan yang sangat kokoh sehingga Islam dapat berkembang pesat dari Madinah ke seluruh penjuru dunia.
Selanjutnya, kaum Anshar tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi mereka juga merelakan kebun dan harta mereka untuk saudara seagama. Ketulusan ini membuktikan bahwa ukhuwah Islamiyah jauh lebih kuat daripada ikatan darah sekalipun. Akhirnya, Madinah pun resmi menjadi pusat peradaban baru yang dibangun di atas cinta karena Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

