Sirah

Perintah Hijrah ke Madinah

Awal Babak Baru Perjuangan Islam

Keberhasilan Bai’at Aqabah II memberikan harapan besar bagi masa depan dakwah Islam di tanah Arab. Setelah penduduk Yatsrib menyatakan kesetiaan mereka, Rasulullah ﷺ segera melihat adanya peluang keamanan bagi para sahabatnya. Akhirnya, beliau ﷺ memberikan instruksi penting kepada kaum Muslimin di Makkah untuk segera meninggalkan tanah kelahiran mereka.


Perintah Rasulullah ﷺ untuk Berpindah

Rasulullah ﷺ menyadari bahwa tekanan kaum Quraisy di Makkah sudah mencapai puncaknya bagi para pengikutnya. Oleh karena itu, beliau ﷺ memberikan kabar gembira mengenai sebuah negeri yang akan menjadi tempat perlindungan baru. Rasulullah ﷺ mendapatkan wahyu melalui mimpi yang menunjukkan karakteristik kota tujuan hijrah tersebut.

Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

رَأَيْتُ فِي المَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ، فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا اليَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ، فَإِذَا هِيَ المَدِينَةُ يَثْرِبُ

Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah menuju suatu negeri yang banyak pohon kurnanya. Lalu dugaanku pergi ke arah Yamamah atau Hajar, namun ternyata negeri itu adalah Madinah Yatsrib. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengorbanan Para Sahabat dalam Perjalanan

Kaum Muslimin menyambut perintah tersebut dengan penuh ketaatan meskipun harus meninggalkan harta benda serta keluarga. Mereka keluar dari kota Makkah secara berangsur-angsur dan sembunyi-sembunyi agar tidak terhalang oleh kaum musyrikin. Banyak sahabat yang mengalami ujian berat, seperti Ummu Salamah رضي الله عنها yang terpisah dari suami dan anaknya.

Meskipun demikian, semangat untuk menjaga agama mengalahkan segalanya bagi para pendahulu yang mulia ini. Mereka rela menempuh perjalanan jauh di tengah padang pasir yang terjal demi meraih keridhaan Allah ﷻ. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa iman yang kokoh mampu membuat seseorang mengikhlaskan dunia demi kehidupan akhirat.

Allah ﷻ memuji kemuliaan para Muhajirin dalam firman-Nya:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

(Juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hasyr: 8)

Hikmah di Balik Perintah Hijrah

Strategi hijrah ini merupakan langkah besar untuk membangun fondasi masyarakat Islam yang kuat dan mandiri. Rasulullah ﷺ tidak hanya memindahkan fisik para sahabat, tetapi juga menyatukan visi perjuangan di bawah satu kepemimpinan. Hijrah menjadi garis pemisah yang jelas antara kebenaran dan kebatilan dalam sejarah manusia.

Selanjutnya, keberadaan kaum Muslimin di Madinah mulai membentuk sebuah kekuatan sosial dan politik yang baru. Penduduk Madinah atau kaum Anshar menyambut saudara mereka dengan tangan terbuka serta rasa persaudaraan yang luar biasa. Akhirnya, perpindahan ini menjadi titik awal perhitungan kalender Hijriyah yang kita gunakan hingga saat ini.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger