Beberapa Contoh Tafsir Syi’ah
Syi’ah merupakan sebuah aliran yang terdiri dari beberapa kelompok dengan karakteristik yang beragam. Sebagian besar dari mereka menunjukkan kecintaan yang sangat berlebihan kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Selain itu, sebagian penganutnya memiliki fanatisme golongan yang sangat ekstrem hingga mencapai tingkat kekufuran yang nyata.
Asal-Usul dan Tokoh Utama Syi’ah
Sejarah mencatat bahwa Abdullah bin Saba’ merupakan tokoh utama yang membidani lahirnya pemikiran-pemikiran menyimpang dalam Syi’ah. Sosok ini adalah seorang Yahudi yang sangat jahat dan pura-pura memeluk Islam hanya untuk menghancurkan agama ini dari dalam. Selanjutnya, ia menyebarkan berbagai paham yang merusak aqidah umat Islam demi menciptakan perpecahan yang mendalam.
Kelompok yang paling ekstrem bahkan berani meyakini bahwa Malaikat Jibril telah melakukan kesalahan saat membawa turun wahyu Al-Qur’an. Menurut keyakinan mereka, Jibril seharusnya menyampaikan wahyu tersebut kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan bukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Pemikiran ini jelas membantah firman Allah ﷻ mengenai kejujuran malaikat pembawa wahyu:
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (Asy-Syu’ara: 193-194).
Penyimpangan Takwil Syi’ah Itsna ‘Asyariyah
Kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah sering kali melakukan takwil yang sangat jauh dari makna aslinya terhadap ayat-ayat kitabullah. Mereka memaksakan makna setiap ayat agar selalu berkaitan dengan imam-imam mereka. Berikut adalah contoh penyimpangan takwil yang mereka kemukakan:
-
Takwil Surat Al-Hajj: Allah ﷻ berfirman:
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ
Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka (Al-Hajj: 29).
Ternyata, mereka menakwilkan penggalan ayat tersebut sebagai perintah untuk menemui Imam Ali رضي الله عنه setelah mereka membersihkan kotoran saat haji. Padahal, makna aslinya berkaitan dengan rangkaian ibadah manasik haji.
-
Takwil Surat Az-Zumar: Allah ﷻ berfirman:
وَأَشْرَفَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا
Dan bumi (padang mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya (Az-Zumar: 69).
Kelompok ini menakwilkan cahaya Tuhan dalam ayat tersebut sebagai cahaya imam mereka saat bangkit nanti. Takwil semacam ini jelas menyimpang dari penafsiran para sahabat dan ulama salaf yang memahami ayat ini sebagai keadilan Allah ﷻ di hari kiamat.
Pentingnya Menjaga Aqidah dari Paham Menyimpang
Seorang muslim wajib berpegang teguh pada pemahaman para sahabat yang telah Allah ﷻ rida kepada mereka. Sikap berlebihan dalam memuliakan manusia hanya akan menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan atau kesesatan. Rasulullah ﷺ pun telah memberikan peringatan keras agar umatnya tidak melampaui batas dalam memuji beliau maupun keluarga beliau.
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama, karena sesungguhnya perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Akhirnya, kita harus senantiasa memohon hidayah kepada Allah ﷻ agar tetap berada di atas jalan sunnah yang murni. Pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an akan menjadi benteng bagi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam yang ingin merusak agama dari dalam. Semoga Allah ﷻ menjaga aqidah kita dan keluarga kita dari setiap kesesatan.
Penulis : Ustadz Wildan Risalat (Mudir Pesantren MAQI)

