Bai’at Aqabah II: Perjanjian Besar yang Membuka Jalan Hijrah
Keberhasilan dakwah Mus’ab bin Umair رضي الله عنه di Yatsrib membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Setahun setelah Bai’at Aqabah pertama, rombongan besar penduduk Yatsrib berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah kerumunan jamaah haji tersebut, terdapat tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita Muslim yang ingin bertemu Rasulullah ﷺ.
Pertemuan Rahasia di Tengah Malam
Pertemuan ini berlangsung secara sangat rahasia pada malam hari di hari-hari Tasyrik demi menghindari kecurigaan kaum Quraisy. Mereka berkumpul di lembah Aqabah setelah semua orang tertidur lelap untuk menjumpai Rasulullah ﷺ. Pada kesempatan istimewa ini, Nabi ﷺ datang bersama paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib, yang saat itu belum memeluk Islam namun ingin menjamin keamanan keponakannya.
Abbas memberikan peringatan keras kepada kaum Khazraj mengenai risiko besar yang akan mereka hadapi jika membela Nabi ﷺ. Namun, penduduk Yatsrib dengan penuh keteguhan menyatakan kesiapan mereka untuk melindungi Rasulullah ﷺ dalam kondisi apa pun. Komitmen ini menunjukkan kematangan iman mereka yang sudah siap memikul beban dakwah yang lebih berat.
Poin-Poin Penting Bai’at Aqabah II
Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما menceritakan bahwa kaum Yatsrib bertanya tentang isi janji setia yang harus mereka penuhi. Rasulullah ﷺ kemudian menetapkan beberapa poin krusial yang harus mereka patuhi sebagai konsekuensi dari keimanan mereka. Perjanjian ini jauh lebih luas cakupannya daripada perjanjian sebelumnya karena melibatkan komitmen perlindungan fisik dan jihad.
Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka:
تُبَايِعُونِي عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ ، وَالنَّفَقَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ ، وَعَلَى الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَأَنْ تَقُولُوا فِي اللَّهِ لا تَخَافُونَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لائِمٍ
Kalian membai’atku untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, memberi nafkah dalam keadaan sulit maupun lapang, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta kalian berkata karena Allah tanpa takut akan celaan orang yang mencela. (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah).
Terbukanya Gerbang Hijrah ke Madinah
Setelah proses bai’at selesai, Rasulullah ﷺ meminta mereka memilih dua belas orang pemimpin (nuqaba) sebagai wakil dari kabilah masing-masing. Langkah organisasi ini bertujuan untuk memudahkan koordinasi dakwah dan persatuan di Yatsrib nantinya. Keberhasilan Bai’at Aqabah II ini secara otomatis menyediakan tempat yang aman bagi umat Islam untuk berhijrah.
Allah ﷻ memberikan keridhaan yang sangat besar bagi mereka yang berani mengambil risiko demi menolong utusan-Nya. Perjanjian ini menjadi fondasi utama berdirinya masyarakat Islam yang berdaulat di Madinah.
Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka menjanjikan prasetia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (Al-Fath: 18)
Oleh karena itu, kaum Anshar telah membuktikan cinta mereka melalui tindakan nyata yang melampaui sekadar kata-kata. Mereka menyadari bahwa membela Rasulullah ﷺ berarti siap menghadapi permusuhan dari seluruh bangsa Arab. Akhirnya, perintah hijrah pun turun tidak lama setelah peristiwa besar ini terjadi.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

