Hikmah Isra’ Mi’raj
Momentum Menguatkan Iman dan Memperbaiki Shalat
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah ﷻ atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ. Melalui mimbar ini, khatib berwasiat agar kita terus meningkatkan ketakwaan. Sebab, ketakwaan adalah modal utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Peristiwa Besar Melampaui Akal Manusia
Isra’ Mi’raj merupakan mukjizat agung yang menunjukkan kekuasaan Allah ﷻ yang mutlak. Perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, terjadi dalam waktu singkat. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Isra: 1).
Selanjutnya, peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa iman harus mendahului logika. Ketika penduduk Makkah meragukan berita ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه langsung membenarkannya. Sikap tersebut mengajarkan kita untuk sepenuhnya tunduk pada wahyu Allah ﷻ.
Shalat sebagai Oleh-Oleh Istimewa
Kemudian, hikmah terbesar dari Isra’ Mi’raj adalah syariat shalat lima waktu. Berbeda dengan ibadah lain, perintah shalat diterima langsung oleh Nabi ﷺ di langit ketujuh. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan shalat dalam Islam.
Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan dalam hadits panjang tentang perjalanan tersebut:
فَرَجَعْتُ فَمَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: بِمَا أُمِرْتَ؟ قَالَ: أُمِرْتُ بِخَمْسِينَ صَلاَةً كُلَّ يَوْمٍ
Lalu aku kembali dan melewati Musa, maka ia bertanya: “Apa yang diperintahkan kepadamu?” Nabi menjawab: “Aku diperintahkan shalat lima puluh kali setiap hari” (HR. Bukhari).
Setelah melalui proses bolak-balik atas saran Nabi Musa عليه السلام, Allah ﷻ memberikan keringanan menjadi lima waktu. Namun demikian, pahala lima waktu tersebut tetap setara dengan lima puluh waktu di sisi-Nya.
Ujian Kesabaran dan Penghiburan bagi Nabi ﷺ
Selain itu, Isra’ Mi’raj terjadi pada masa sulit yang disebut sebagai Aamul Huzni atau tahun kesedihan. Nabi ﷺ baru saja kehilangan istri tercinta, Khadijah رضي الله عنها, dan paman beliau, Abu Thalib. Allah ﷻ pun menghibur kekasih-Nya dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di langit.
Maka dari itu, kita harus yakin bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Jika kita merasa sempit di dunia, larilah kepada Allah ﷻ melalui shalat. Sesungguhnya shalat adalah mi’raj-nya orang mukmin untuk berkomunikasi langsung dengan Penciptanya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,
Mari kita jadikan peringatan Isra’ Mi’raj sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas shalat kita. Jangan sampai kita mengaku cinta kepada Nabi ﷺ, namun sering meninggalkan perintah paling utama ini. Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat nanti.
Oleh sebab itu, mari kita jaga kekhusyukan dan waktu-waktu shalat kita. Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan hidayah agar kita istiqamah dalam ketaatan.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

