Menjadi Seorang Pendidik Ala Imam Syafi’i

Bagikan artikel ini :

Nama beliau Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adbab. Nasabnya bertemu dengan kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni Abdul Manaf . dia lahir di Ashkelon, Gaza, Palestina (150 H/767 M) beliau juga seorang muftibesar sunni Islam dan juga pendiri madzhab Syafi’i.

Imam Syafi’i  memilikik teladan dalam mendidik muridnya Rabi’ bin Sulaiman, murid yang agak lambat dalam memahami sesuatu, sebagaimana dikisahkan dalam Thabaqat al-Kubra al-Syafi’iyah. Seperti biasa, Imam Asy-Syafi’i mengajar murid-muridnya di majlis ilmu. Pembelajaran selesai. Namun, ada satu muridnya yang belum paham. Dialah Rabi’ bin Sulaiman.

Dengan penuh kasih sayang, Imam Asy-Syafi’i mengulangi penjelasannya untuk  Rabi’ bin Sulaiman. Ternyata sudah dijelaskan berkali-kali, Rabi’ tidak jua paham. Imam Asy-Syafi’itidak menyerah. Dengan penuh kesabaran, Imam Asy-Syafi’i mengulanginya sebanyak 40 kali.

Namun dengan hikmah Allah Rabi’ bin Sulaiman tidak jua paham. dan Imam Asy-Syafi’i tidak berputus asa hingga  menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh. Sekali-kali tidak. Bahkan imam berkata :

“Muridku, sebatas inilah kemampuanku (meremedial 40 kali) mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu,” ujar Imam Asy-Syafi’i.

Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.

Hingga pada akhirnya, Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar dalam Madzhab Syafi’i. seorang yang lambat paham bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar. Bahkan dialah yang menjadi perawi utama Imam Asy Syafi’i. Bahkan menurut ulama, jika ada perbedaan antara Imam Robi’ dan Imam Muzani maka Imam Robi’ lah yang dimenangkan. Karena Robi’ bin sulaiman inilah yang menyalin kitab Al-Umm semasa hidupnya imam Asy- Syafi’i

Itulah teladan seorang imam yang mulia dalam mewariskan warisan para nabi yaitu ilmu, Nabi shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Di Riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Semoga kita selalu di karuniai kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Subhanahu Wata’la dalam mengemban amanah sebagi seorang pendidik.

Penulis : Ustadz Faisal Alhabsyi (Bidang Kurikulum dan Akademik Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger