Aqidah

Rukun Iman: Iman kepada Allah

Mengenal rukun iman merupakan kewajiban pertama bagi setiap muslim sebelum melangkah pada amal ibadah lainnya. Fondasi paling utama dari seluruh rukun tersebut adalah iman kepada Allah ﷻ. Tanpa keimanan yang benar kepada Sang Pencipta, maka amalan seseorang tidak akan memiliki nilai di sisi-Nya.


Empat Unsur Utama Iman kepada Allah

Para ulama menjelaskan bahwa iman kepada Allah ﷻ mencakup empat unsur penting yang harus terpenuhi sekaligus. Pertama, kita wajib meyakini keberadaan (wujud) Allah ﷻ. Kedua, kita mengimani Rububiyah-Nya, yakni meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, dan mengatur alam semesta.

Ketiga, kita mengimani Uluhiyah-Nya, yang berarti hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak menerima ibadah. Keempat, kita mengimani Asma’ wa Shifat, yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ sebagaimana yang tercantum dalam wahyu. Allah ﷻ berfirman mengenai perintah dasar ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. An-Nisa: 136)


Mengesakan Allah dalam Ibadah (Tauhid Uluhiyah)

Inti dari iman kepada Allah ﷻ adalah memurnikan seluruh bentuk ibadah hanya untuk-Nya semata. Seseorang belum disebut beriman dengan benar jika ia masih memberikan persembahan, doa, atau rasa takut yang luar biasa kepada selain Allah. Allah ﷻ secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk menjauhi kesyirikan.

Perhatikan firman Allah ﷻ berikut ini:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (QS. An-Nisa: 36)

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa hak Allah atas hamba-Nya adalah untuk disembah tanpa tandingan. Dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30, Mu’adz bin Jabal meriwayatkan pesan agung ini saat berboncengan dengan Nabi ﷺ).


Bukti Keberadaan Allah Melalui Fitrah dan Akal

Setiap manusia lahir membawa fitrah untuk mengakui adanya Pencipta yang Maha Agung. Selain itu, akal sehat yang jernih pasti menyadari bahwa alam semesta yang teratur ini tidak mungkin muncul secara kebetulan. Keindahan langit dan bumi menjadi bukti nyata atas kekuasaan Allah ﷻ.

Meskipun manusia tidak dapat melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, namun jejak ciptaan-Nya terlihat sangat jelas. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan tentang tingkatan iman yang paling tinggi, yaitu Ihsan. Dari Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, dalam hadits Jibril yang sangat masyhur, Nabi ﷺ bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim no. 8, Umar bin Al-Khattab menyaksikan kedatangan Malaikat Jibril yang bertanya tentang iman).


Kesimpulan dan Pengaruh Iman dalam Jiwa

Iman kepada Allah ﷻ akan membuahkan rasa tenang, keberanian, dan kemuliaan di dalam hati seorang mukmin. Kita menyadari bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Allah ﷻ, sehingga kita tidak perlu merasa takut kepada makhluk. Ketauhidan yang murni menjadi kunci utama untuk meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Akhirnya, mari kita terus memupuk iman ini dengan ilmu dan amal shalih setiap hari. Iman yang kokoh akan membimbing kita untuk selalu istiqamah di atas jalan yang lurus hingga ajal menjemput.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger