Aqidah

Makna Iman Ditinjau dari Bahasa dan Istilah

Memahami hakikat iman merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap muslim agar ibadahnya memiliki landasan yang benar. Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah konsep yang mencakup keyakinan hati dan pembuktian melalui amal perbuatan. Artikel ini mengulas secara ringkas definisi iman baik secara bahasa maupun istilah syariat.


Pengertian Iman Secara Bahasa

Secara etimologi atau bahasa, para ulama menjelaskan bahwa iman berarti at-tashdiq yang bermakna membenarkan. Selain itu, iman juga mengandung makna al-iqrar yang berarti menetapkan atau mengakui sesuatu dengan rasa aman. Oleh karena itu, seseorang yang beriman merasa tenang dan aman dengan kebenaran yang ia yakini di dalam jiwanya.

Meskipun bermakna membenarkan, iman dalam konteks agama memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar membenarkan sebuah berita. Iman menuntut ketundukan dan kerelaan hati terhadap apa yang Allah ﷻ dan Rasul-Nya sampaikan.


Definisi Iman Menurut Istilah Syariat

Ahlus Sunnah wal Jama’ah merumuskan definisi iman dengan penjelasan yang sangat komprehensif berdasarkan dalil-dalil wahyu. Iman terdiri dari tiga pilar utama yang tidak boleh terpisahkan satu sama lain. Pilar tersebut adalah keyakinan di dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.

Selanjutnya, pilar-pilar ini muncul secara tegas dalam berbagai dalil Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya amal sebagai bagian dari iman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal: 2)


Iman Bisa Bertambah dan Berkurang

Ciri khas pemahaman salafus shalih adalah meyakini bahwa tingkat keimanan seseorang bersifat dinamis. Iman akan bertambah seiring ketaatan yang hamba lakukan kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, kemaksiatan dan dosa akan menyebabkan iman tersebut semakin menipis dan berkurang.

Keyakinan ini bersumber dari penjelasan Rasulullah ﷺ mengenai cabang-cabang keimanan yang mencakup ucapan dan perbuatan. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّريقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang dari iman. (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Melalui hadits yang Abu Hurairah رضي الله عنه sampaikan, kita melihat bahwa iman mencakup lisan (syahadat), anggota badan (menyingkirkan gangguan), dan hati (sifat malu).


Kesimpulan dan Hikmah

Mengetahui makna iman yang benar akan menghindarkan kita dari pemahaman keliru seperti kelompok yang menganggap amal tidak berpengaruh pada iman. Kita harus senantiasa menjaga hati, lisan, dan perbuatan agar selaras dalam ketakwaan kepada Allah ﷻ. Dengan demikian, kualitas iman kita akan terus meningkat dan mendatangkan keberkahan hidup.

Akhirnya, mari kita terus memohon ketetapan iman kepada Allah ﷻ agar kita wafat dalam keadaan muslim yang kaffah. Iman yang kokoh merupakan bekal paling berharga untuk menghadapi kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger