Tawakkal dalam Al-Qur’an
Sandaran Hati yang Membuahkan Ketenangan
Tawakkal merupakan salah satu pilar utama dalam akidah seorang Muslim. Selain sebagai bentuk ibadah, tawakkal juga menjadi sumber kekuatan bagi jiwa saat menghadapi badai kehidupan. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan panduan lengkap mengenai cara bersandar hanya kepada Allah ﷻ.
Hakikat Tawakkal bagi Seorang Hamba
Secara istilah, tawakkal berarti mewakilkan atau menyerahkan segala urusan kepada Allah ﷻ. Namun, Anda perlu memahami bahwa tawakkal harus dibarengi dengan usaha yang maksimal. Maka dari itu, tawakkal bukan berarti diam tanpa melakukan tindakan apa pun. Justru, tawakkal adalah perbuatan hati yang dilakukan setelah anggota badan bekerja keras.
Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk bertawakkal sebagaimana firman-Nya:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. (QS. Al-Furqan: 58)
Keutamaan Bertawakkal kepada Allah ﷻ
Selanjutnya, Allah ﷻ menjanjikan jaminan kecukupan bagi mereka yang benar-benar bersandar kepada-Nya. Tentu saja, jaminan ini menjadi solusi paling ampuh dalam mengatasi rasa cemas terhadap masa depan. Di samping itu, tawakkal juga akan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa.
Allah ﷻ menegaskan hal tersebut dalam ayat-Nya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq: 3)
Teladan Tawakkal dari Rasulullah ﷺ
Bukan hanya dalam Al-Qur’an, tetapi Rasulullah ﷺ juga sering menekankan pentingnya tawakkal yang benar. Beliau ﷺ memberikan perumpamaan seekor burung yang keluar mencari makan sebagai simbol tawakkal. Walaupun burung itu pergi dalam keadaan lapar, namun ia tetap berusaha mencari nafkah hingga pulang dalam kondisi kenyang.
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ No. 5254).
Hubungan antara Usaha dan Tawakkal
Supaya tidak salah dalam memahami konsep ini, kita harus tetap melakukan ikhtiar atau usaha nyata. Memang benar bahwa hati harus bersandar pada takdir, akan tetapi fisik tetap wajib menempuh sebab-sebab keberhasilan. Sebagai contoh, seseorang tidak boleh hanya berdoa tanpa bekerja untuk mendapatkan rezeki dari Allah ﷻ.
Bahkan, para sahabat pun diperintahkan untuk mengikat untanya sebelum mereka bertawakkal. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat menghargai kerja keras sebagai bagian dari kesempurnaan tawakkal tersebut. Oleh sebab itu, marilah kita perbaiki cara bersandar kita agar hanya tertuju kepada Sang Khaliq.
Kesimpulan
Pada akhirnya, tawakkal adalah kunci utama untuk meraih kebahagiaan sejati. Melalui penyerahan diri yang tulus, maka setiap beban kehidupan akan terasa lebih ringan untuk dipikul. Oleh karena itu, mulailah setiap langkah urusan Anda dengan menyebut nama Allah ﷻ dan menyerahkan hasilnya secara total kepada-Nya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


