Al-Quran

Mengenal Macam-Macam Nafsu

 

Nafsu dalam bahasa arab diartikan dengan jiwa, adapun definisi umumnya  adalah suatu kehendak tak ada batas yang ada pada diri setiap manusia. Seperti yang tertulis dalam al qur’an bahwa nafsu itu merupakan fitrah yang Allah ciptakan pada diri manusia, dengannya manusia dapat hidup dengan semestinya, seperti nafsu makan, nafsu minum dan nafsu pada wanita.

Namun tahukah kita, bahwa diantara nafsu yang ada pada diri manusia, terbagi pada 4 bagian, masing-masing nafsu tersebut bersifat positif dan negatif. Berikut ini penjabarannya:

  1. Nafsu muthmainnah [النفس المطمئنة]

Nafsu atau jiwa yang selalu membawa ketenangan dalam seseorang di dalam mengerjakan amalan ibadah, ketaatan dan senantiasa ridho pada setiap qadha dan qodar yang Allah tentukan kepadanya.

Allah berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)

Allah juga berfirman,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr: 27-28).

  1. Nafsu lawwamah [النفس اللوّامة]

Secara bahasa kata nafsu lawwamah bisa diartikan sebagai jiwa yang menyesali dirinya sendiri atau juga jiwa yang mencela. Disebut nafsu lawwamah karena nafsu ini sering mencela orangnya disebabkan kesalahan yang dia lakukan, baik dosa besar, dosa kecil, atau meninggalkan perintah Allah, baik yang sifatnya wajib atau anjuran.

Allah bersumpah dengan menyebut nafsu jenis ini dalam al-Quran,

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawwamah.” (QS. al-Qiyamah: 2)

  1. Nafsu ammarah bis su’u [النفس الأمارة بالسوء]

Nafsu ini memerintahkan seseorang kepada keburukan dan mencela perbuatan baik. Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka perbuatan di balik kebaikan itu menyimpan maksud yang buruk, dengan hasil akhirnya yang buruk. Maka setiap keinginan nafsu ini selalu membawa kecurigaan, dan tidak bisa diterima sebagaimana mestinya kebaikan yang tulus.

Allah sebutkan jenis nafsu ini dalam surat Yusuf,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53).

Tiga keadaan di atas, tergantung dari suasana jiwa. Artinya, jiwa manusia bisa menjadi muthmainnah, dalam sekejap dia juga bisa berubah menjadi lawwamah, dan juga bisa langsung berubah menjadi ammarah bis suu’.

Wallahu a’lam bis showaab.

Penulis : Ustadz A. Muslim Nurdin, S.Pd (Mudir Pesantren MAQI)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger