Bahasa Arab

Mengenal Isim Mabnī

Saat membaca Al-Qur’an atau kitab Arab, kita sering bertemu kata yang akhirnya tidak berubah. Kata itu tetap sama, baik di awal, di tengah, maupun di akhir kalimat. Dalam ilmu nahwu, kata seperti ini disebut isim mabnī. Oleh karena itu, mari kita kenali bersama dengan contoh yang mudah.

Apa Itu Isim Mabnī?

Pertama, perhatikan definisinya dalam bahasa Arab:

الاسْمُ الْمَبْنِيُّ هُوَ الاسْمُ الَّذِي يَلْزَمُ حَالَةً وَاحِدَةً، وَلَا يَتَغَيَّرُ آخِرُهُ بِتَغَيُّرِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهِ

Artinya, isim mabnī adalah isim yang akhirnya tetap pada satu keadaan. Dengan demikian, akhir katanya tidak berubah meski kedudukannya dalam kalimat berubah.

Sebaliknya, isim mu’rab adalah isim yang akhirnya berubah mengikuti kedudukannya. Berikut perbandingannya:

  • جَاءَ الْمُعَلِّمُ (isim mu’rab, akhirnya berharakat ḍammah)
  • رَأَيْتُ الْمُعَلِّمَ (isim mu’rab, akhirnya berharakat fatḥah)
  • مَرَرْتُ بِالْمُعَلِّمِ (isim mu’rab, akhirnya berharakat kasrah)

Sekarang, bandingkan dengan isim mabnī:

  • جَاءَ هَذَا
  • رَأَيْتُ هَذَا
  • مَرَرْتُ بِهَذَا

Ternyata, kata هَذَا tidak berubah sama sekali. Karena itu, ia termasuk isim mabnī.

Lima Jenis Isim Mabnī yang Perlu Dikenal

Sebenarnya, isim mabnī memiliki banyak macam. Namun, lima jenis berikut paling sering kita jumpai, yaitu ḍamīr, isim isyārah, isim maushūl, isim syarth, dan isim istifhām.

1. Ḍamīr (Kata Ganti)

الضَّمِيرُ هُوَ اسْمٌ جَامِدٌ يَدُلُّ عَلَى مُتَكَلِّمٍ أَوْ مُخَاطَبٍ أَوْ غَائِبٍ

Ḍamīr adalah kata ganti untuk orang pertama, kedua, atau ketiga. Selain itu, ia hadir dalam dua bentuk, yaitu terpisah (munfaṣil) dan menyambung (muttaṣil).

Ḍamīr munfaṣil: أَنَا، نَحْنُ، أَنْتَ، أَنْتِ، أَنْتُمْ، هُوَ، هِيَ، هُمْ

Ḍamīr muttaṣil: ـتُ، ـنَا، ـكَ، ـهُ، ـهَا، ـهُمْ

Allah ﷻ berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan (QS. Al-Fātiḥah: 5).

Pada ayat ini, إِيَّاكَ adalah ḍamīr munfaṣil. Sementara itu, ـكَ menunjukkan orang kedua.

Contoh sehari-hari:

  • أَنَا طَالِبٌ (Saya seorang pelajar)
  • كِتَابِي جَدِيدٌ (Bukuku baru)
  • أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ (Aku mencintaimu karena Allah)

2. Isim Isyārah (Kata Tunjuk)

اسْمُ الْإِشَارَةِ هُوَ اسْمٌ يَدُلُّ عَلَى مُعَيَّنٍ بِوَاسِطَةِ إِشَارَةٍ

Kata tunjuk terbagi menurut jarak benda yang ditunjuk. Misalnya, untuk benda yang dekat kita memakai هَذَا، هَذِهِ، dan هَؤُلَاءِ. Adapun untuk benda yang jauh, kita memakai ذَلِكَ، تِلْكَ، dan أُولَئِكَ. Terakhir, untuk tempat, kita memakai هُنَا (di sini) dan هُنَاكَ (di sana).

Allah ﷻ berfirman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 2).

Dalam ayat ini, ذَلِكَ berperan sebagai isim isyārah.

Contoh sehari-hari:

  • هَذَا مَسْجِدٌ جَمِيلٌ (Ini masjid yang indah)
  • هَذِهِ سَيَّارَةُ الْمُدِيرِ (Ini mobil direktur)
  • أُولَئِكَ الطُّلَّابُ مُجْتَهِدُونَ (Mereka para pelajar yang rajin)

Catatan: bentuk ganda seperti هَذَانِ dan هَاتَانِ justru termasuk isim mu’rab, bukan mabnī.

3. Isim Maushūl (Kata Sambung)

الِاسْمُ الْمَوْصُولُ هُوَ اسْمٌ لَا يَتِمُّ مَعْنَاهُ إِلَّا بِجُمْلَةٍ بَعْدَهُ تُسَمَّى الصِّلَةَ

Isim maushūl membutuhkan kalimat sesudahnya agar maknanya sempurna. Oleh sebab itu, kalimat tersebut kita sebut ṣilah. Contohnya adalah الَّذِي (laki-laki), الَّتِي (perempuan), الَّذِينَ (banyak laki-laki), مَنْ (siapa yang), dan مَا (apa yang).

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (HR. Bukhārī).

Di dalam hadits ini, kita menemukan tiga isim maushūl, yaitu مَنْ, مَنْ, dan مَا.

Contoh sehari-hari:

  • الَّذِي يَجْتَهِدُ يَنْجَحُ (Orang yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
  • أُحِبُّ مَنْ يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ (Aku menyukai orang yang salat di masjid)
  • سَمِعْتُ مَا قُلْتَهُ (Aku mendengar apa yang kamu katakan)

4. Isim Syarth (Kata Syarat)

اسْمُ الشَّرْطِ هُوَ اسْمٌ يَرْبِطُ بَيْنَ جُمْلَتَيْنِ، الْأُولَى فِعْلُ الشَّرْطِ وَالثَّانِيَةُ جَوَابُ الشَّرْطِ

Isim syarth menghubungkan dua kalimat. Kalimat pertama berisi syarat, lalu kalimat kedua berisi akibatnya. Beberapa contohnya adalah مَنْ (siapa saja), مَا (apa saja), مَهْمَا (apa pun), مَتَى (kapan saja), dan أَيْنَمَا (di mana saja).

Allah ﷻ berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Pada kedua ayat ini, مَنْ adalah isim syarth. Bahkan, ia menjazmkan dua fi’il sekaligus, yaitu يَعْمَلْ dan يَرَهُ.

Contoh sehari-hari:

  • مَنْ يَجْتَهِدْ يَنْجَحْ (Siapa yang bersungguh-sungguh, ia berhasil)
  • مَهْمَا تَزْرَعْ تَحْصُدْ (Apa pun yang kamu tanam, kamu panen)
  • أَيْنَمَا تَذْهَبْ أَذْهَبْ (Ke mana pun kamu pergi, aku ikut)

5. Isim Istifhām (Kata Tanya)

اسْمُ الِاسْتِفْهَامِ هُوَ اسْمٌ يُطْلَبُ بِهِ الْفَهْمُ

Kita memakai isim istifhām untuk bertanya. Sebagai contoh, ada مَنْ (siapa), مَا (apa), مَاذَا (apa), مَتَى (kapan), أَيْنَ (di mana), كَيْفَ (bagaimana), dan كَمْ (berapa).

Allah ﷻ berfirman:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Maka ke manakah kamu akan pergi? (QS. At-Takwīr: 26).

Dalam ayat tersebut, أَيْنَ merupakan isim istifhām.

Selanjutnya, perhatikan hadits ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ayahmu (HR. Bukhārī dan Muslim).

Di sini, مَنْ berfungsi sebagai isim istifhām.

Contoh sehari-hari:

  • مَنْ أَنْتَ؟ (Siapa kamu?)
  • مَا اسْمُكَ؟ (Siapa namamu?)
  • أَيْنَ الْمَسْجِدُ؟ (Di mana masjid?)
  • كَمْ سَاعَةً نِمْتَ؟ (Berapa jam kamu tidur?)

Contoh Percakapan yang Memuat Semuanya

Supaya lebih jelas, mari kita simak percakapan singkat berikut:

أَحْمَدُ: مَنْ هَذَا؟

خَالِدٌ: هَذَا أَخِي.

أَحْمَدُ: مَا اسْمُهُ؟

خَالِدٌ: اسْمُهُ يُوسُفُ.

أَحْمَدُ: أَيْنَ يَدْرُسُ؟

خَالِدٌ: يَدْرُسُ فِي الْمَعْهَدِ الَّذِي بِجَانِبِ الْمَسْجِدِ.

Pertama, مَنْ, مَا, dan أَيْنَ adalah isim istifhām. Kedua, هَذَا termasuk isim isyārah. Ketiga, الَّذِي merupakan isim maushūl. Terakhir, ـهُ dan ـي adalah ḍamīr.

Tips Mudah Mengenali Isim Mabnī

Pertama, hafalkan kata-kata yang sering muncul dari kelima jenis di atas. Kedua, perhatikan konteks kalimat, sebab مَنْ dan مَا bisa berfungsi sebagai kata tanya, kata sambung, atau kata syarat. Ketiga, ingat bahwa akhir isim mabnī tidak berubah. Dengan latihan rutin, Anda akan cepat mengenalinya saat membaca Al-Qur’an dan kitab.

Penutup

Singkatnya, isim mabnī adalah pintu penting untuk memahami nahwu. Setelah mengenal ḍamīr, isim isyārah, isim maushūl, isim syarth, dan isim istifhām, membaca teks Arab menjadi lebih mudah. Oleh karena itu, mari terus belajar, sebab ilmu bahasa Arab membantu kita memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan benar.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger