Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an Bagian 2
Kodifikasi pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه mencatatkan sejarah monumental bagi perjalanan dakwah Islam. Beliau mengambil keputusan strategis untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an menjadi satu mushaf yang padu. Kebijakan besar ini lahir sebagai respons atas dinamika politik dan keamanan yang mengancam keberlangsungan hafalan para sahabat.
Latar Belakang Kodifikasi Al-Qur’an
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beberapa suku Arab membangkang dan enggan membayar zakat. Selain itu, muncul pula nabi-nabi palsu yang menyesatkan masyarakat, seperti Musailamah Al-Kaddhab. Untuk mengatasi krisis ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه mengirim pasukan muslimin dalam Perang Yamamah yang sangat dahsyat.
Meskipun kaum muslimin memenangkan pertempuran tersebut, perang ini memakan korban jiwa yang sangat banyak. Sebanyak tujuh puluh orang sahabat penghafal Al-Qur’an (hurraf) gugur di medan syahid.
Melihat kenyataan pahit tersebut, Umar bin Khattab رضي الله عنه merasa sangat khawatir akan keselamatan Al-Qur’an. Oleh karena itu, beliau segera menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه untuk mengusulkan ide pengumpulan lembaran-lembaran wahyu.
Usulan Umar dan Keputusan Abu Bakar
Pada awalnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه sempat ragu untuk menjalankan usulan tersebut. Beliau enggan melakukan suatu perbuatan yang tidak pernah Rasulullah ﷺ contohkan secara langsung sewaktu hidup. Akan tetapi, Umar bin Khattab رضي الله عنه terus meyakinkan beliau hingga Allah ﷻ melapangkan dada sang khalifah.
Zaid bin Tsabit رضي الله عنه menceritakan dialog bersejarah ini dalam sebuah riwayat yang shahih:
أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ، فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ: إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَارَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ، وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ بِالأَمْصَارِ، فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنَ الْقُرْآنِ، وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ. قُلْتُ لِعُمَرَ: كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ عُمَرُ: هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ. فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِذَلِكَ، وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ
Abu Bakar memanggilku setelah peristiwa gugurnya para penghafal Al-Qur’an dalam perang Yamamah, dan ternyata Umar bin Khattab berada di sisinya. Abu Bakar رضي الله عنه berkata: Sesungguhnya Umar telah datang kepadaku lalu berkata: “Sungguh pembunuhan pada perang Yamamah telah menimpa banyak para penghafal Al-Qur’an, dan aku khawatir pembunuhan akan terus menimpa para penghafal Al-Qur’an di kota-kota lain sehingga sebagian besar Al-Qur’an akan hilang. Oleh karena itu, aku berpendapat agar engkau memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an.” Aku berkata kepada Umar: “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah Rasulullah ﷺ lakukan?” Umar menjawab: “Demi Allah, ini adalah kebaikan.” Dan Umar terus-menerus meyakinkanku hingga Allah melapangkan dadaku untuk hal itu, dan aku sependapat dengan pandangan Umar (HR. Bukhari).
Metode Ketat Zaid bin Tsabit dalam Pengumpulan
Setelah bulat mengambil keputusan, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menunjuk Zaid bin Tsabit رضي الله عنه untuk memimpin proyek agung ini. Pilihan ini jatuh kepada Zaid karena beliau memiliki kecerdasan luar biasa, berakhlak mulia, dan berpengalaman sebagai penulis wahyu utama Nabi ﷺ.
Dalam menjalankan tugas mulia ini, Zaid bin Tsabit رضي الله عنه menerapkan standar penulisan yang sangat ketat dan objektif. Beliau tidak cuma bersandar pada hafalannya sendiri atau hafalan sahabat lain. Sebaliknya, beliau hanya menerima catatan ayat yang memiliki dua saksi adil yang menyaksikan bahwa tulisan tersebut dibuat di hadapan Rasulullah ﷺ.
Allah ﷻ menegaskan jaminan perlindungan terhadap kitab-Nya dalam firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9).
Penyimpanan Mushaf Pertama
Melalui metode yang sangat cermat ini, Zaid bin Tsabit رضي الله عنه berhasil menghimpun seluruh lembaran Al-Qur’an ke dalam satu jilid mushaf yang rapi. Kemudian, mushaf berharga ini disimpan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه hingga beliau wafat.
Setelah itu, simpanan mushaf beralih ke tangan Umar bin Khattab رضي الله عنه selama masa kepemimpinannya. Pada akhirnya, lembaran-lembaran suci ini disimpan oleh Hafshah binti Umar رضي الله عنها hingga masa pembukuan massal pada zaman Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


