Ulumul Quran

Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an

Metode Penghafalan dan Penulisan di Zaman Nabi ﷺ

Proses pengumpulan Al-Qur’an menjadi bukti nyata dari janji Allah ﷻ dalam menjaga kemurnian kitab suci-Nya. Allah ﷻ menjalankan penjagaan wahyu ini melalui dua jalur utama yang bergerak secara serasi. Kedua jalur tersebut meliputi kekuatan hafalan di dalam dada para sahabat serta pencatatan pada media fisik.

Pengumpulan Lewat Hafalan Para Sahabat

Pada dasarnya, metode utama penjagaan Al-Qur’an pada masa Rasulullah ﷺ mengandalkan kekuatan hafalan yang sangat luar biasa. Mengingat masyarakat Arab saat itu terkenal memiliki daya ingat yang kuat, mereka mampu menghafal setiap perkataan dengan sangat cepat. Oleh karena itu, setiap kali menerima wahyu, beliau ﷺ langsung membacakannya kepada para sahabat agar mereka dapat menghafalnya secara mutqin.

Selain itu, Allah ﷻ memberikan jaminan kemudahan proses hafalan ini di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar: 17).

Hasilnya, banyak sahabat رضي الله عنهما yang berhasil menghafal seluruh isi Al-Qur’an secara sempurna di bawah bimbingan langsung Nabi ﷺ. Selanjutnya, para sahabat terus merawat hafalan tersebut melalui ibadah shalat dan pembacaan rutin harian.

Pengumpulan Lewat Penulisan Media Fisik

Di samping mengandalkan hafalan lisan, Rasulullah ﷺ juga memperhatikan sisi penulisan wahyu secara cermat. Oleh sebab itu, beliau ﷺ menunjuk beberapa sahabat pilihan sebagai sekretaris wahyu untuk mencatat setiap ayat yang turun. Sahabat-sahabat tersebut antara lain Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه.

Kemudian, para sahabat memanfaatkan media-media alami yang sederhana namun tahan lama dalam proses pencatatan ini. Mereka menggoreskan ayat-ayat Al-Qur’an pada pelepah kurma, batu pipih, lempengan tulang, serta kepingan kulit binatang.

Mengenai hal ini, Zaid bin Tsabit رضي الله عنه menceritakan proses berharga tersebut dalam sebuah riwayat shahih:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُؤَلِّفُ الْقُرْآنَ مِنَ الرِّقَاعِ

Kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ menyusun Al-Qur’an dari kepingan-kepingan kulit (HR. At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih).

Keadaan Tulisan Al-Qur’an Sebelum Nabi ﷺ Wafat

Meskipun para sahabat telah selesai menulis seluruh ayat Al-Qur’an secara lengkap sebelum Rasulullah ﷺ wafat, namun lembaran-lembaran tersebut belum menyatu dalam satu jilid mushaf. Hal ini terjadi karena wahyu Allah ﷻ masih terus turun hingga menjelang wafatnya beliau ﷺ.

Akan tetapi, setelah seluruh wahyu selesai turun, Nabi ﷺ telah menetapkan susunan ayat dan surat berdasarkan petunjuk ilahi (tauqifi). Pada akhirnya, para khalifah melanjutkan proyek pengumpulan menjadi satu jilid mushaf utuh pada masa Khulafaur Rasyidin. Langkah monumental ini menjadi fondasi awal penjagaan mushaf yang kita baca hingga hari ini.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger