Definisi Al-Qur’an
Mengenal Makna dan Perbedaannya dengan Hadits
Memahami definisi Al-Qur’an merupakan langkah awal yang sangat krusial bagi setiap Muslim. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an bukan sekadar buku bacaan biasa, melainkan pedoman hidup yang sakral. Selain itu, pemahaman yang tepat akan membantu kita membedakan antara firman Allah ﷻ dan perkataan manusia.
Al-Qur’an Secara Etimologi dan Terminologi
Secara etimologi atau bahasa, kata Al-Qur’an berasal dari akar kata qara-a yang berarti membaca. Jadi, Al-Qur’an bermakna sesuatu yang dibaca atau bacaan yang sempurna. Istilah ini merujuk pada hakikat kitab suci ini sebagai mukjizat yang senantiasa dibaca oleh umat Islam di seluruh dunia.
Secara terminologi atau istilah syariat, Al-Qur’an memiliki definisi yang sangat spesifik untuk menjaganya dari kerancuan. Al-Qur’an adalah kalam Allah ﷻ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai mukjizat. Firman Allah ﷻ ini disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril dan ditulis dalam mushaf-mushaf. Selanjutnya, teks tersebut sampai kepada kita secara mutawatir (bersambung melalui banyak perawi) dan membacanya bernilai ibadah.
Allah ﷻ menegaskan fungsi Al-Qur’an dalam firman-Nya:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al-Isra: 9).
Perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi, dan Hadits Nabawi
Meskipun sumber hukum Islam saling berkaitan, namun terdapat perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dan Hadits. Ketidaktahuan akan perbedaan ini dapat memicu kekeliruan dalam menetapkan hukum atau adab berinteraksi dengan keduanya.
1. Al-Qur’an al-Karim
Ciri khas utama Al-Qur’an adalah redaksi dan maknanya murni berasal dari Allah ﷻ secara langsung. Al-Qur’an bersifat ta’abbudi, yang berarti membacanya dianggap sebagai ibadah meskipun tanpa memahami maknanya. Selain itu, Al-Qur’an menjadi tantangan bagi siapa pun untuk menandingi keindahan sastranya.
2. Hadits Qudsi
Hadits Qudsi memiliki posisi yang unik karena maknanya dari Allah ﷻ, tetapi redaksinya disusun oleh Rasulullah ﷺ. Walaupun maknanya agung, membacanya tidak bernilai ibadah khusus seperti membaca Al-Qur’an dalam shalat.
Contoh Hadits Qudsi adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya (HR. Muslim).
3. Hadits Nabawi
Berbeda dengan dua sebelumnya, Hadits Nabawi mencakup perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah ﷺ secara umum. Baik redaksi maupun maknanya berasal dari ijtihad beliau ﷺ yang dibimbing oleh wahyu Allah ﷻ.
Sebagai contoh, Umar bin Khattab رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengapa Perbedaan Ini Penting?
Memahami klasifikasi ini sangat membantu kita dalam menghormati derajat setiap dalil. Al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi karena ia adalah standar utama kebenaran yang tidak mungkin berubah. Sementara itu, hadits berfungsi menjelaskan dan memperinci hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an secara lebih praktis. Dengan mengenal definisi ini, kita akan semakin mantap dalam berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


