Al-Quran

Peran Ulama dalam Al-Qur’an

Pewaris Nabi dan Penjaga Umat

Ulama memegang posisi yang sangat sentral dan mulia dalam struktur ajaran Islam. Di samping itu, mereka bertindak sebagai penyambung lidah wahyu serta pembimbing umat menuju jalan keridaan Allah ﷻ. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan kedudukan yang tinggi bagi mereka yang memiliki kedalaman ilmu dan rasa takut yang besar kepada Sang Pencipta.

Kedudukan Tinggi Pemilik Ilmu

Secara mendasar, Allah ﷻ membedakan dengan jelas antara orang-orang yang berilmu dengan mereka yang tidak memiliki pengetahuan. Selain itu, derajat orang yang beriman dan berilmu akan naik beberapa tingkat lebih tinggi di sisi-Nya. Maka dari itu, menuntut ilmu syar’i menjadi jalan utama bagi seorang hamba untuk meraih kemuliaan hakiki.

Allah ﷻ berfirman dalam ayat-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ulama sebagai Hamba yang Paling Takut kepada Allah ﷻ

Selanjutnya, kriteria ulama yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada banyaknya hafalan, melainkan pada besarnya rasa takut mereka kepada Allah ﷻ. Tentu saja, kedalaman ilmu seharusnya membuahkan ketundukan jiwa yang luar biasa di hadapan kebesaran Khaliq. Di samping itu, pengenalan yang mendalam terhadap sifat-sifat Allah ﷻ menjadikan para ulama sebagai garda terdepan dalam ketakwaan.

Allah ﷻ menegaskan hal tersebut melalui firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. (QS. Fatir: 28)

Peran Ulama sebagai Pewaris Para Nabi

Bukan hanya dalam Al-Qur’an, namun Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa para ulama adalah pewaris sah dari tugas-tugas kenabian. Meskipun para Nabi tidak meninggalkan harta benda, tetapi mereka meninggalkan warisan ilmu yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, mencintai dan mengikuti bimbingan ulama yang istiqamah merupakan bentuk penghormatan kepada ajaran Nabi ﷺ.

Diriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ No. 6297).

Kewajiban Umat Merujuk kepada Ulama

Supaya umat tidak tersesat dalam memahami persoalan agama yang rumit, maka Allah ﷻ memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ahli ilmu. Memang benar bahwa setiap individu wajib belajar, akan tetapi penjelasan ulama sangat kita perlukan untuk menghindari kesalahan tafsir. Tentu saja, keberadaan ulama menjadi lentera yang menerangi kegelapan di tengah fitnah akhir zaman.

Allah ﷻ memerintahkan dalam firman-Nya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)

Kesimpulan

Pada akhirnya, ulama adalah penjaga syariat yang memastikan ajaran Islam tetap murni hingga hari kiamat. Melalui peran mereka dalam mengajar dan berdakwah, maka keberkahan ilmu akan terus tersebar luas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menghormati para ulama serta mengambil manfaat dari ilmu yang mereka sampaikan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger