Waspadai Penyakit Hati Setelah Hari Yang Fitri
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنَسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menghantarkan kita pada pertengahan bulan Syawal ini. Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya. Perlu kita sadari bahwa setelah melewati bulan Ramadhan dan merayakan Idul Fitri, hati kita berada dalam kondisi yang bersih. Namun, tantangan sesungguhnya justru muncul sekarang, yaitu saat syaitan mulai kembali menggoda manusia dengan segala tipu dayanya. Oleh karena itu, kita harus sangat waspada terhadap kembalinya penyakit hati yang dapat merusak kesucian batin kita. Penyakit hati seperti sombong, riya, dan dengki seringkali muncul tanpa kita sadari di saat kita merasa telah sukses beribadah.
Bahaya Sifat Sombong Setelah Beribadah
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya setelah hari yang fitri adalah perasaan ujub atau bangga diri. Kita mungkin merasa lebih suci atau lebih baik daripada orang lain karena telah menyelesaikan puasa dengan sempurna. Padahal, sifat sombong merupakan penghalang utama seseorang untuk masuk ke dalam surga Allah ﷻ. Oleh sebab itu, kita harus selalu rendah hati dan merasa bahwa setiap amal shalih yang kita lakukan adalah murni taufiq dari Allah ﷻ.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memberikan peringatan keras mengenai hal ini:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan (HR. Muslim).
Dengan demikian, marilah kita terus menjaga hati agar tetap tunduk dan patuh kepada-Nya. Kebanggaan atas amal ibadah justru bisa menghapus pahala yang telah kita kumpulkan dengan susah payah selama sebulan penuh.
Mewaspadai Penyakit Dengki dan Permusuhan
Selanjutnya, kita juga harus menjaga hati dari penyakit hasad atau dengki terhadap nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada orang lain. Suasana lebaran dan pertemuan antar sesama terkadang memicu munculnya rasa iri saat melihat keberhasilan saudara kita. Oleh karena itu, kita wajib mensyukuri setiap bagian yang Allah ﷻ tetapkan untuk diri kita sendiri. Penyakit hasad ini tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menggerogoti amal kebaikan layaknya api membakar kayu bakar.
Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk saling mencintai dan menjauhi kebencian demi menjaga keutuhan iman. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا
Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan tanajusy (menipu dalam jual beli), janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling membelakangi (HR. Muslim).
Maka dari itu, marilah kita jadikan sisa bulan Syawal ini sebagai ajang untuk mempererat persaudaraan. Batin yang bersih akan membuat kehidupan kita menjadi jauh lebih tenang dan penuh dengan keberkahan.
Menjaga Keikhlasan dalam Beramal
Di sisi lain, penyakit riya atau pamer amal juga sering mengintai setelah kita melakukan banyak ketaatan. Kita mungkin tergoda untuk menceritakan amalan puasa atau sedekah kita agar mendapatkan pujian dari manusia. Oleh sebab itu, kita harus meluruskan kembali niat hanya untuk mencari ridha Allah ﷻ semata. Allah ﷻ hanya akan menerima amal yang murni dikerjakan karena-Nya tanpa ada campuran keinginan duniawi lainnya.
Allah ﷻ memberikan bimbingan mengenai pentingnya keikhlasan batin dalam firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah: 5).
Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar Allah ﷻ senantiasa melindungi hati kita dari segala macam kotoran jiwa. Semoga kita bisa mempertahankan kesucian hati ini sampai kita menghadap Allah ﷻ di akhirat kelak.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,
Sebagai kesimpulan, mari kita perketat penjagaan terhadap pintu-pintu hati kita dari gangguan syaitan. Kemenangan di hari yang fitri harus kita pertahankan dengan cara tetap istiqamah dalam kerendahan hati. Selanjutnya, marilah kita saling mendoakan agar Allah ﷻ menjauhkan kita dari sifat iri dan sombong. Oleh karena itu, jadikanlah dzikir dan istighfar sebagai pelindung harian bagi batin kita semua.
Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati agar menetapkan hati kita di atas agama-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


