Fiqih

Panduan Puasa Sunnah

Seorang Muslim sejati tidak hanya mencukupkan diri dengan ibadah wajib saja. Selain puasa Ramadhan, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan berbagai puasa sunnah untuk menyempurnakan amal ibadah kita. Melalui puasa sunnah, kita dapat meraih kecintaan Allah ﷻ sekaligus menambal kekurangan yang ada pada amalan wajib kita.


Keutamaan Melaksanakan Puasa Sunnah

Melaksanakan puasa sunnah memberikan banyak manfaat besar bagi kehidupan seorang hamba. Pertama, ibadah ini akan menjauhkan wajah pelakunya dari siksa api neraka. Kedua, Allah ﷻ menjanjikan pintu khusus bernama Ar-Rayyan bagi orang-orang yang gemar berpuasa.

Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه meriwayatkan keutamaan ini:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan (HR. Bukhari dan Muslim).


Macam-Macam Puasa Sunnah yang Utama

Rasulullah ﷺ memberikan teladan mengenai waktu-waktu terbaik untuk melaksanakan puasa sunnah. Berikut adalah beberapa jenis puasa sunnah yang memiliki landasan dalil yang kuat:

1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Umat Islam sangat dianjurkan untuk menyambung puasa Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal. Keutamaannya sangat luar biasa karena nilainya setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh.

Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh (HR. Muslim).

2. Puasa Arafah dan Asyura

Puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi mereka yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Sementara itu, puasa Asyura jatuh pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati hari kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun.

Abu Qatadah Al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan tentang penghapusan dosa melalui puasa ini:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Abu Qatadah Al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu (HR. Muslim).

3. Puasa Senin dan Kamis

Rasulullah ﷺ rutin menjalankan puasa pada dua hari ini dalam setiap pekan. Beliau ﷺ memberikan alasan bahwa pada hari tersebut amal-amal manusia dilaporkan kepada Allah ﷻ.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan alasan beliau ﷺ:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).


Niat dalam Puasa Sunnah

Ada sedikit perbedaan mengenai aturan niat antara puasa wajib dan puasa sunnah. Dalam puasa sunnah, seorang Muslim boleh berniat di pagi hari selama ia belum makan atau minum apa pun sejak fajar. Kelonggaran ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah ﷻ dalam memfasilitasi hamba-Nya untuk berbuat baik.

Aisyah رضي الله عنها menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ:

يَا عَائِشَةُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ. قَالَ: فَإِنِّي صَائِمٌ

Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa Nabi ﷺ bertanya: Wahai Aisyah, apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki apa pun. Beliau pun bersabda: Kalau begitu, aku berpuasa (HR. Muslim).

Sebagai penutup, marilah kita menghidupkan hari-hari kita dengan amalan puasa sunnah sesuai kemampuan. Semoga setiap tetes rasa lapar dan haus yang kita rasakan menjadi saksi ketaatan kita di akhirat kelak.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger