Sirah

Dakwah di Thaif

Ketabahan Rasulullah ﷺ Menghadapi Ujian Berat

Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah رضي الله عنها, tekanan kafir Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, beliau ﷺ memutuskan untuk mencari perlindungan dan basis dakwah baru di luar kota Makkah. Kota Thaif menjadi pilihan utama karena letaknya yang strategis serta keberadaan kabilah Tsaqif yang besar.


Penolakan Keras Penduduk Thaif

Rasulullah ﷺ berangkat ke Thaif dengan berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه untuk menjaga kerahasiaan. Setibanya di sana, beliau ﷺ menemui para pemuka Bani Tsaqif untuk mengajak mereka memeluk Islam dan membela dakwah. Namun, harapan tersebut berbalas dengan penghinaan serta penolakan yang sangat kasar dari para pemimpin Thaif.

Penduduk kota tersebut tidak hanya menolak dakwah, tetapi mereka juga menghasut orang-orang bodoh untuk menyerang beliau ﷺ. Akibatnya, Rasulullah ﷺ dilempari batu sepanjang jalan keluar dari kota hingga kaki beliau ﷺ bersimbah darah. Zaid bin Haritsah رضي الله عنه berusaha melindungi Nabi ﷺ dengan tubuhnya sendiri hingga kepalanya mengalami luka-luka.

Kelembutan Hati di Tengah Penderitaan

Meskipun dalam kondisi terluka dan penuh duka, Rasulullah ﷺ tetap menunjukkan akhlak yang luar biasa agung. Allah ﷻ kemudian mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung untuk menawarkan bantuan kepada beliau ﷺ. Malaikat tersebut menawarkan untuk menghimpit penduduk Thaif dengan dua gunung besar sebagai balasan atas kezaliman mereka.

Aisyah رضي الله عنها pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari yang lebih berat dari perang Uhud. Beliau ﷺ menceritakan momen di Thaif tersebut lalu bersabda:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR. Bukhari dan Muslim).

Buah Kesabaran dan Doa Nabi ﷺ

Doa mulia tersebut akhirnya dikabulkan oleh Allah ﷻ dalam sejarah panjang dakwah Islam selanjutnya. Sifat pemaaf Nabi ﷺ menunjukkan bahwa tujuan utama dakwah adalah menyelamatkan manusia, bukan menghancurkan mereka. Meskipun saat itu Thaif menolak, namun beberapa tahun kemudian kota tersebut menjadi salah satu benteng kekuatan Islam.

Allah ﷻ berfirman mengenai sifat lemah lembut dalam berdakwah:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali ‘Imran: 159)

Selanjutnya, peristiwa Thaif mengajarkan kita bahwa kesuksesan sebuah perjuangan membutuhkan kesabaran yang tanpa batas. Rasulullah ﷺ membuktikan bahwa luka fisik bukanlah penghalang untuk terus menebar kasih sayang dan hidayah kepada sesama. Akhirnya, keteguhan hati beliau ﷺ di Thaif menjadi inspirasi bagi setiap dai dalam menghadapi penolakan seberat apa pun.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger