Menggapai Jiwa yang Tenang
Jiwa yang tenang merupakan idaman bagi setiap Mukmin yang mengharapkan kebahagiaan sejati. Kelak, Allah ﷻ akan memanggil jiwa yang tenang ini untuk kembali menghadap-Nya dengan penuh keridhoan. Allah ﷻ bahkan memberikan undangan khusus kepada mereka untuk masuk ke dalam golongan hamba pilihan dan menikmati surga-Nya.
Panggilan indah ini Allah ﷻ abadikan dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr: 27-30).
Ikhlas dalam Menghambakan Diri kepada Allah ﷻ
Langkah pertama untuk meraih ketenangan jiwa adalah dengan menanamkan sifat ikhlas dalam setiap amal perbuatan. Ikhlas berarti kita menjadikan wajah Allah ﷻ sebagai satu-satunya tujuan utama dalam beribadah. Orang yang ikhlas akan tetap fokus pada ketaatan tanpa memedulikan berbagai tantangan atau penilaian manusia.
Perintah untuk memurnikan ketaatan ini tercantum dalam firman Allah ﷻ:
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5).
Bersyukur Atas Segala Kenikmatan
Selanjutnya, rasa syukur menjadi kunci pembuka pintu ketenangan yang sangat luar biasa. Secara harfiah, syukur berarti berterima kasih, namun para ahli ilmu mendefinisikannya sebagai tindakan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Karena tugas utama manusia adalah beribadah, maka menunaikan kewajiban tersebut merupakan bentuk syukur yang paling tinggi.
Allah ﷻ memberikan jaminan tambahan nikmat bagi siapa saja yang mau bersyukur:
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Apabila kita sudah menunaikan ibadah, maka ketenangan jiwa akan datang secara otomatis karena kita telah memenuhi fitrah peruntukan diri. Sebaliknya, orang yang melalaikan ibadah akan merasakan kegelisahan serta gundah gulana sebagai bentuk hukuman awal di dunia.
Tawakal Setelah Menyempurnakan Ikhtiar
Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah bersikap tawakal dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah ﷻ. Kita harus melakukan upaya yang optimal sampai batas kemampuan, namun tetap menyerahkan hasil akhir kepada ketentuan-Nya. Keyakinan bahwa semua kejadian adalah takdir terbaik dari Allah ﷻ akan melahirkan kedamaian batin.
Hal ini selaras dengan janji Allah ﷻ bagi hamba-hamba yang bertawakal:
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَّ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 3).
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan betapa indahnya keadaan orang beriman melalui lisan sahabat Suhaib Ar-Rumi رضي الله عنه:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang Mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim, no. 2999).
Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing kita semua agar menjadi jiwa-jiwa yang tenang hingga akhir hayat nanti. Aamiin.

