Isra’ Mi’raj
Mukjizat Agung dan Perjalanan Menjemput Kewajiban Shalat
Setelah melewati masa-masa penuh kesedihan, Allah ﷻ memberikan kemuliaan besar kepada Rasulullah ﷺ melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Perjalanan luar biasa ini bukan sekadar hiburan bagi hati Nabi ﷺ, melainkan pembuktian kekuasaan Allah ﷻ yang melampaui logika manusia. Peristiwa tersebut terjadi pada satu malam yang penuh berkah menuju Baitul Maqdis hingga ke langit ketujuh.
Perjalanan dari Makkah Menuju Baitul Maqdis
Isra’ merupakan perjalanan malam hari yang Rasulullah ﷺ tempuh dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Beliau ﷺ mengendarai buraq dengan didampingi oleh Malaikat Jibril alaihissalam dalam waktu yang sangat singkat. Setibanya di sana, Nabi ﷺ memimpin shalat sebagai imam bagi para nabi dan rasul terdahulu.
Allah ﷻ mengabadikan momen bersejarah ini dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Isra: 1)
Mi’raj: Naik ke Sidratul Muntaha
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ menjalani Mi’raj, yaitu kenaikan dari Baitul Maqdis menembus lapisan-lapisan langit. Pada setiap lapisan langit, beliau ﷺ bertemu dengan para nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Ibrahim alaihimussalam. Puncak dari perjalanan ini adalah ketika Rasulullah ﷺ mencapai Sidratul Muntaha untuk berkomunikasi langsung dengan Allah ﷻ.
Dalam perjalanan ini, Rasulullah ﷺ menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah ﷻ yang sangat menakjubkan. Malik bin Sha’sha’ah رضي الله عنه meriwayatkan perkataan Nabi ﷺ saat sampai di langit ketujuh:
فَرُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ المُنْتَهَى، فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلاَلِ هَجَرَ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الفِيَلَةِ
Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha, ternyata buahnya seperti tempayan daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. (HR. Bukhari dan Muslim).
Perintah Shalat Lima Waktu
Oleh karena itu, momen paling krusial dalam peristiwa Mi’raj adalah diterimanya perintah ibadah shalat. Awalnya, Allah ﷻ mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam bagi umat Islam. Namun, atas saran Nabi Musa alaihissalam dan permohonan Rasulullah ﷺ, jumlah tersebut akhirnya mendapat keringanan.
Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai hasil akhir perintah tersebut:
هِيَ خَمْسٌ، وَهِيَ خَمْسُونَ، لاَ يُبَدَّلُ القَوْلُ لَدَيَّ
Shalat itu lima waktu (dalam pengerjaan), namun nilainya lima puluh (dalam pahala), firman-Ku tidak dapat diubah lagi. (HR. Bukhari dan Muslim).
Meskipun kaum Quraisy mendustakan kabar ini keesokan harinya, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه langsung membenarkannya tanpa ragu sedikit pun. Keyakinan tersebut kemudian menjadi pelajaran penting bagi kita untuk selalu mendahulukan keimanan atas logika dalam memahami syariat. Akhirnya, shalat menjadi warisan paling berharga dari perjalanan agung ini untuk mempertemukan hati seorang hamba dengan Sang Pencipta.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

