Berpikir dan Menyelesaikan Masalah serta Konflik
Kemampuan berpikir secara jernih merupakan anugerah besar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dalam perjalanan hidup, setiap individu pasti akan menghadapi berbagai masalah dan konflik yang menguji kesabaran serta kecerdasan emosionalnya. Oleh karena itu, memahami cara menyelesaikan masalah dengan landasan syariat menjadi sangat penting agar kita mendapatkan solusi yang penuh keberkahan.
Pentingnya Berpikir Mendalam sebelum Bertindak
Berpikir kritis atau tafakkur membantu seseorang melihat akar masalah secara lebih objektif. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan akal sehat demi mencari jalan keluar yang paling maslahat. Allah ﷻ mengajak manusia untuk senantiasa merenung melalui banyak ayat dalam Al-Qur’an, salah satunya:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? (Al-Ghasyiyah: 17).
Selanjutnya, penggunaan akal yang benar akan menjauhkan kita dari sikap terburu-buru yang sering kali memperkeruh suasana. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketenangan merupakan bagian dari sifat mulia yang Allah ﷻ cintai. Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda kepada Al-Asyajj bin Abdul Qais:
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ
Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai, yaitu santun dan tidak tergesa-gesa (HR. Muslim).
Strategi Menyelesaikan Konflik Antar Sesama
Konflik sering kali muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kesalahpahaman komunikasi. Jika hal ini terjadi, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menahan amarah dan mengedepankan sifat pemaaf. Pemimpin atau penengah yang bijak akan menggunakan musyawarah sebagai sarana rekonsiliasi.
Allah ﷻ memberikan panduan utama dalam mendamaikan pihak yang berselisih melalui firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (Al-Hujurat: 10).
Selain itu, seorang muslim yang cerdas akan menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat meskipun ia berada di pihak yang benar. Rasulullah ﷺ menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang mampu meredam ego demi persatuan. Dari Abu Umamah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Hikmah di Balik Masalah dan Ujian
Setiap masalah yang hadir sebenarnya berfungsi sebagai sarana pendewasaan diri dan penggugur dosa. Pemimpin yang hebat lahir dari tempaan berbagai konflik yang berhasil ia selesaikan dengan kepala dingin. Oleh sebab itu, kita tidak perlu memandang masalah sebagai beban semata, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas iman dan intelektual.
Akhirnya, berdoalah kepada Allah ﷻ agar Dia memberikan cahaya dalam setiap keputusan yang kita ambil. Dengan mengombinasikan usaha lahiriah melalui berpikir logis dan usaha batiniah melalui doa, maka setiap konflik akan berujung pada kedamaian. Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing hati dan pikiran kita dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan.

