Larangan Ghibah dan Namimah dalam Islam
Menjaga lisan dari perbuatan ghibah dan namimah merupakan kewajiban setiap muslim untuk menjaga kehormatan sesama. Selain merusak pahala ibadah, penyakit lisan ini dapat menghancurkan ukhuwah islamiyah dalam sekejap saja. Oleh karena itu, kita harus memahami bahaya dari kedua perbuatan tercela ini agar selamat di dunia maupun akhirat.
Hadits Tentang Pengertian Ghibah
Berikut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه mengenai definisi ghibah yang sebenarnya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah ﷺ bersabda bersabda: Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. Beliau ditanya: Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan itu memang ada pada saudaraku? Beliau menjawab: Jika apa yang engkau katakan itu memang ada padanya, maka engkau telah melakukan ghibah. Namun jika tidak ada padanya, maka engkau telah melakukan fitnah. (HR. Muslim No. 2589)
Bahaya Namimah bagi Persaudaraan
Selanjutnya, namimah atau mengadu domba merupakan perbuatan yang sangat Allah ﷻ benci karena memicu permusuhan. Seseorang yang memiliki kebiasaan menyebarkan berita untuk merusak hubungan orang lain terancam tidak akan masuk surga. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras melalui sabda beliau:
عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Dari Hudzaifah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. (HR. Bukhari No. 6056 dan Muslim No. 105)
Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyaring setiap berita yang ia dengar agar tidak terjerumus dalam dosa ini. Kemudian, Allah ﷻ juga memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan bagi pelaku ghibah di dalam Al-Quran:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS. Al-Hujurat: 12)
Menjaga Lisan demi Keselamatan Diri
Lalu, kita harus menyadari bahwa diam adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada membicarakan aib orang lain. Di samping itu, kebiasaan ghibah seringkali muncul karena rasa iri atau kurangnya kesibukan dalam melakukan amal kebaikan. Padahal, satu kalimat ghibah saja sudah cukup untuk mengotori pahala puasa dan ibadah lainnya secara drastis. Dengan demikian, mari kita fokus memperbaiki kekurangan diri sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain.
Tips Terhindar dari Penyakit Lisan
Pada akhirnya, menjauhi majelis yang berisi pembicaraan sia-sia adalah langkah pertama untuk melindungi lisan kita. Selain itu, mendoakan kebaikan bagi orang yang hendak kita bicarakan aibnya dapat meredam dorongan untuk berbuat ghibah. Sebaliknya, terus mengikuti hawa nafsu untuk berguncing hanya akan mendatangkan kegelisahan hati yang berkepanjangan. Oleh sebab itu, mari kita hiasi lisan dengan dzikir dan perkataan yang bermanfaat agar Allah ﷻ senantiasa memberikan rahmat-Nya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

