Hadits

Hadis Mengusap Khuf, Madzi dan Junub

Mengusap Khuf, Najis Madzi, dan Tata Cara Mandi Junub

Ibadah yang sempurna bermula dari kesucian yang benar sesuai tuntunan syariat. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami berbagai keringanan (rukhsah) dan prosedur bersuci agar ibadah tetap sah. Artikel ini akan mengulas poin-poin penting seputar fiqih thaharah berdasarkan hadits-hadits shahih pilihan.

Ketentuan Mengusap di Atas Dua Khuf

Khuf adalah alas kaki yang menutupi mata kaki, biasanya terbuat dari kulit atau bahan sejenisnya. Syariat memberikan kemudahan bagi pemakainya untuk tidak melepas khuf saat berwudhu, melainkan cukup mengusap bagian atasnya saja. Rasulullah ﷺ memberikan contoh ini melalui riwayat sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah رضي الله عنه:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا

Dari ‘Urwah bin Al-Mughirah bin Syu’bah dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan, aku lalu merunduk untuk melepas kedua sepatunya (khuf), namun beliau bersabda: ‘Biarkan saja, karena aku mengenakannya dalam keadaan suci.’ Dan beliau hanya mengusap di atasnya.” (HR. Bukhari, no. 206).

Selanjutnya, masa berlaku keringanan ini dibatasi oleh waktu tertentu. Sebagaimana penjelasan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه:

جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

Rasulullah ﷺ menjadikan waktu tiga hari tiga malam bagi musafir dan sehari semalam bagi orang yang mukim. (HR. Muslim, no. 276).

Mengenal Madzi dan Sunnah Fitrah

Madzi merupakan cairan bening dan lengket yang keluar saat seseorang bercumbu atau memikirkan hal-hal yang membangkitkan syahwat. Meskipun tidak mewajibkan mandi besar, madzi termasuk najis yang membatalkan wudhu. Sahabat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menceritakan pengalamannya:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Dari Ali رضي الله عنه berkata: “Dulu aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi. Maka aku minta seseorang untuk bertanya kepada Nabi ﷺ karena kedudukan putri beliau (sebagai istriku). Lalu orang itu bertanya, dan Nabi ﷺ menjawab: ‘Berwudhu dan cuci kemaluanmu!'” (HR. Bukhari, no. 269).

Selain kebersihan dari najis, Islam juga menekankan sunnah fitrah untuk menjaga kesehatan fisik. Rasulullah ﷺ memerintahkan lima perkara melalui riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis, dan memotong kuku.” (HR. Bukhari, no. 5891).

Tata Cara Mandi Junub yang Sempurna

Junub adalah kondisi seseorang setelah bersetubuh atau keluarnya air mani, yang mewajibkan mandi besar agar bisa kembali shalat. Meskipun dalam keadaan junub, seorang Muslim secara hakiki tidaklah najis fisiknya. Hal ini ditegaskan Nabi ﷺ kepada Abu Hurairah رضي الله عنه:

إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ

Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak najis. (HR. Bukhari, no. 283).

Mengenai tata caranya, kita dapat mengikuti prosedur sunnah yang dipraktikkan Nabi ﷺ. Berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها dan Maimunah رضي الله عنها (HR. Bukhari no. 248 & 265, Muslim no. 316 & 317), berikut urutan yang tepat:

  1. Mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.

  2. Membersihkan kemaluan dan kotoran sekitarnya menggunakan tangan kiri.

  3. Mencuci tangan dengan sabun atau menggosokkannya ke tanah setelah membersihkan najis.

  4. Berwudhu secara sempurna sebagaimana hendak shalat.

  5. Mengguyur air ke kepala sebanyak tiga kali hingga pangkal rambut basah.

  6. Menyiramkan air ke seluruh badan, dimulai dari sisi kanan kemudian kiri.

Anda boleh mencuci kaki di akhir proses mandi (seperti hadits Maimunah) atau mencucinya saat berwudhu di awal (seperti hadits Aisyah). Kedua cara tersebut sama-sama dibenarkan dalam syariat. Melalui pemahaman yang benar ini, semoga kualitas kesucian kita semakin baik di hadapan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger