Fiqih

Fiqih I’tikaf Hukum dan Keutamaannya

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat Islam memiliki agenda ibadah yang sangat mulia yaitu I’tikaf. Ibadah ini menjadi momentum emas bagi setiap Muslim untuk menjauhkan diri sejenak dari kesibukan duniawi demi meraih rida Allah ﷻ. Artikel ini akan menyajikan ulasan ringkas mengenai fiqih I’tikaf agar ibadah kita semakin sesuai dengan tuntunan sunnah.

Pengertian dan Hukum I’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu, sedangkan menurut syariat adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah ﷻ. Hukum asal ibadah ini adalah sunnah muakkadah, terutama saat malam-malam ganjil di akhir Ramadhan. Allah ﷻ memberikan isyarat mengenai ibadah ini dalam firman-Nya:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid (Al-Baqarah: 187).

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ senantiasa menjaga rutinitas ibadah ini hingga akhir hayat beliau. Hal tersebut membuktikan bahwa I’tikaf merupakan sarana terbaik untuk fokus berzikir dan berdoa. Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

Bahwasanya Nabi ﷺ senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya (HR. Bukhari dan Muslim).

Syarat dan Rukun I’tikaf yang Benar

Seorang Muslim harus memenuhi beberapa kriteria agar I’tikaf yang ia kerjakan menjadi sah di sisi syariat. Pertama, pelaku I’tikaf haruslah seorang Muslim yang berakal dan sudah suci dari hadas besar seperti haid atau nifas. Kedua, niat yang tulus karena Allah ﷻ menjadi pondasi utama yang tidak boleh terlewatkan.

Selain itu, tempat pelaksanaan I’tikaf harus berada di dalam masjid yang digunakan untuk salat berjamaah. Selama berada di sana, seseorang sebaiknya memperbanyak amalan seperti membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dan beristighfar. Hindarilah keluar masjid tanpa urusan yang mendesak agar pahala I’tikaf tetap terjaga dengan sempurna.

Keutamaan Meraih Lailatul Qadar melalui I’tikaf

Ternyata, tujuan utama dari I’tikaf di akhir Ramadhan adalah untuk mencari malam kemuliaan atau Lailatul Qadar. Malam tersebut memiliki nilai yang lebih baik daripada seribu bulan bagi siapa saja yang menghidupkannya dengan amal saleh. Rasulullah ﷺ sangat memotivasi umatnya untuk bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir tersebut.

Dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, I’tikaf menjadi jalan paling efektif agar kita tidak kehilangan keberkahan malam tersebut. Dengan berdiam diri di masjid, perhatian kita tidak akan teralihkan oleh kebisingan dunia yang sering kali melalaikan. Akhirnya, semoga Allah ﷻ memberikan kita kekuatan untuk meneladani sunnah ini dan mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger