Bahasa Arab

Memahami Kaidah Fi’il Syarat dan Jawab Syarat

Mempelajari tata bahasa Arab atau ilmu Nahwu merupakan kunci utama untuk memahami pesan-pesan dalam Al-Qur’an secara akurat. Salah satu pembahasan yang menarik adalah susunan kalimat syarat (as-syarth). Kalimat ini biasanya terdiri dari alat syarat, perbuatan syarat (fi’il syarth), dan balasan atau jawaban syarat (jawab syarth). Artikel ini akan mengulas bagaimana kaidah penggunaan fi’il madhi dalam kalimat syarat serta penggunaan huruf fa pada jawabannya.

Penggunaan Fi’il Madhi dalam Kalimat Syarat

Secara umum, alat syarat berfungsi menjazmkan kata kerja setelahnya. Namun, apabila fi’il syarat atau jawab syarat menggunakan kata kerja bentuk lampau (fi’il madhi), maka kata tersebut secara lafaz tetap pada keadaan aslinya (mabni). Meskipun demikian, secara kedudukan ia menempati posisi jazm (fi mahalli jazmin).

Perhatikan contoh ungkapan populer berikut ini:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

(Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil)

Berikut adalah analisis atau i’rab dari kalimat tersebut:

  • مَنْ (Man): Isim syarth mabni di atas sukun, berkedudukan sebagai mubtada.

  • جَدَّ (Jadda): Fi’il madhi mabni di atas fathah, menempati tempat jazm sebagai fi’il syarth. Pelakunya adalah dhamir mustatir huwa.

  • وَجَدَ (Wajada): Fi’il madhi mabni di atas fathah, menempati tempat jazm sebagai jawab syarth. Pelakunya adalah dhamir mustatir huwa.

Kapan Jawab Syarat Harus Menggunakan Huruf Fa?

Terdapat kondisi tertentu yang mengharuskan jawab syarat bersambung dengan huruf fa (faul jawab). Hal ini terjadi apabila jawaban tersebut tidak bisa langsung menjadi jazm secara lafaz karena struktur kalimatnya. Salah satu kondisinya adalah ketika jawaban syarat berupa kalimat isim (jumlah ismiyyah).

Perhatikan contoh penerapan dalam tabel berikut:

No Jawab Syarat Contoh Kalimat Terjemahan
1 Jumlah Ismiyyah إِنْ تَسْمَعْ لِوَالِدَيْكَ فَأَنْتَ طَائِعٌ Jika kamu mendengarkan kedua orang tuamu, maka kamu adalah orang yang taat

Ternyata, penggunaan fa pada kalimat di atas wajib karena jawaban (Anta tha’iun) diawali dengan kata ganti atau isim, bukan kata kerja yang bisa dijazmkan.

Pentingnya Kesungguhan dalam Belajar

Kaidah bahasa Arab menuntut ketelitian dan kesungguhan untuk menguasainya. Prinsip “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil” dalam contoh di atas sangat selaras dengan nilai-nilai Islam dalam menuntut ilmu. Allah ﷻ menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ juga memotivasi umatnya agar selalu semangat dalam melakukan hal yang bermanfaat. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

Bersungguh-sunggahlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah (HR. Muslim).

Oleh karena itu, memahami struktur kalimat syarat bukan sekadar teori bahasa. Sebaliknya, hal ini merupakan bagian dari upaya kita untuk semakin mahir berinteraksi dengan dalil-dalil syariat. Akhirnya, semoga penjelasan singkat ini memudahkan pembaca dalam mendalami khazanah bahasa Al-Qur’an yang sangat luas.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger