Mengenal Abul Aswad Ad-Dualiy
Abul Aswad Ad-Dualiy merupakan penggagas ilmu nahwu dan pakar tata bahasa bahasa Arab dari Bani Kinanah dan dijuluki sebagai bapak bahasa Arab. Nama aslinya adalah Zhalim bin Amr, lebih dikenal atau dengan julukannya Abu Al-Aswad Ad-Dualiy (atau Ad-Dili), orang yang diambil ilmunya dan yang memiliki keutamaan, dan Hakim (Qadhi) di Bashrah. Dia dilahirkan pada masa Nabi Muhammad Shallallahu âAlaihi Wasallam. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab. Dan yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah. Dia meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun.
Kompetensi
Ali bin Abi Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu. adalah yang pertama kali mencetus kodifikasi ilmu Bahasa Arab, dia menyusun pembagian kalimat, bab inna wa akhawatuha, idhafah, imalah, taâajjub, istifham dan lain-lain, kemudian dia memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Dualiy untuk mengembangkannya sambil berkata:“âۧÙŰ Ù۰ۧ ۧÙÙŰŹÙ; unhu hadzan nahwa!â (ikutilah yang semisal ini)”. Maka istilah ilmu Nahwu diambil dari perkataan Ali bin Abi thalib ini. Abul Aswad Ad-Duali diperintahkan untuk mengembangkan bahasa Arab oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu  karena pada masa itu Islam telah berkembang ke berbagai negara dan orang asing (ajam/non arab) banyak yang salah dalam berbahasa Arab dan kesulitan memahami Al-Quran, serta masuknya orang-orang ajam ke negeri-negeri Islam lalu mencampur bahasa mereka.
Dikisahkan bahwa yang membuat Abul Aswad Ad-Duâaliy semakin semangat mengembangkan bahasa Arab adalah pada suatu malam ia berjalan dengan putrinya, kemudian putrinya berkata:” âÙ Ű§ ŰŁŰŹÙ Ù Ű§ÙŰłÙ Ű§ŰĄ; maa ajmalus samaâiâ (Apa yang paling Indah di langit?), kemudian Abul Aswad Ad-Duâaliy berkata:” âÙŰŹÙÙ Ùۧ; nujumuhaâ (bintang-bintangnya), kemudian putrinya berkata, âSaya bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)â. Maka Abul Aswad Ad-Duâaliy berkata membenarkan, katakanlah:“âÙ Ű§ ŰŁŰŹÙ Ù Ű§ÙŰłÙ Ű§ŰĄ; âmaa ajmalas samaâaâ, (betapa indahnya langit).
Perkataan Para Ulama Tentangnya
Ahmad Al-Ijli berkata, âDia tsiqah (terpercaya) dan orang yang pertama kali berbicara tentang ilmu nahwuâ. Al-Waqidi berkata, âDia masuk Islam pada masa Nabi shallallahu âalaihi wasallam masih hidup.â Orang lain berkata, âAbu Al Aswad Ad Dualiy ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu, dan dia termasuk pembesar kelompok pendukung Ali dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka. Ali bin Abu Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu telah menyuruhnya meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika dia mendengar kecerdasannya.â Al Waqidi berkata, âLalu Abu Al Aswad menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya,â Ali bin Abu Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu berkata, âAlangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.â Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ânahwuâ. Muhammad bin Salam Al Jumahi berkata, âAbu Al Aswad Ad Duâali adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Faâil, Mafâul, Mudhaf, Huruf Rafaâ, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Yaâmar lalu belajar tentangnya.â
Al-Mubarrad berkata, Al-Mazini menceritakan kepadaku, dia berkata, âSebab yang melatarbelakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu Al Aswad (anak perempuan Abu Al Aswad) berkata kepadanya, âMaa asyaddu Al Harri (alangkah panasnya) Abu Al Aswad lalu berkata, Al Hasyba Ar Ramadhaâ (awan hitam yang sangat panas)â anak perempuan Abu Al Aswad berkata, âaku takjub karena terlalu panasnyaâ. Abu Al Aswad berkata, âAtaukah orang-orang telah biasa mengucapkannya?â. lalu Abu Al Aswad mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyyallahu ‘Anhu, lalu dia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan dia meneruskannya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf.â
Al-Jahizh berkata, âAbu Al-Aswad adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Dia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.â
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat (Musyrif Aam Pesantren MAQI)

