Sifat Cinta dan Murka Allah ﷻ
Mengenal perasaan dan kehendak Sang Pencipta merupakan bagian penting dari keimanan. Allah ﷻ memiliki sifat-sifat yang menunjukkan hubungan-Nya dengan para hamba, seperti cinta (mahabbah) dan murka (ghadhab). Melalui pemahaman yang benar, kita dapat mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh harap sekaligus rasa takut.
Hakikat Sifat Cinta (Al-Mahabbah) Allah ﷻ
Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa Allah ﷻ benar-benar mencintai hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Cinta Allah bukanlah sekadar keinginan untuk memberi pahala, melainkan sebuah sifat hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyerupakan cinta Allah dengan perasaan emosional manusia yang lemah.
Allah ﷻ secara jelas menyebutkan kriteria hamba yang mendapatkan cinta-Nya di dalam Al-Qur’an:
فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. (QS. Al-Ma’idah: 54)
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan ini melalui sebuah hadits yang sangat agung. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبُوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الأَرْضِ
Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.” Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian diletakkanlah penerimaan baginya di bumi. (HR. Bukhari no. 3209 dan Muslim no. 2637, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa cinta Allah membawa pengaruh besar di alam semesta).
Memahami Sifat Murka (Al-Ghadhab) Allah ﷻ
Kebalikan dari sifat cinta, Allah ﷻ juga memiliki sifat murka terhadap orang-orang kafir dan pelaku maksiat. Kita wajib mengimani sifat murka ini tanpa melakukan penolakan makna. Meskipun Allah Maha Pengasih, murka-Nya sangat pedih bagi mereka yang melampaui batas dan menyekutukan-Nya.
Dalil mengenai sifat ini dapat kita temukan dalam firman Allah ﷻ berikut:
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ
Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang buruk. Mereka akan mendapat giliran kebinasaan yang amat buruk dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka. (QS. Al-Fath: 6)
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa rahmat Allah tetap mendahului murka-Nya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
Sesungguhnya Allah telah menulis suatu ketetapan sebelum Dia menciptakan makhluk: “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari no. 7553 dan Muslim no. 2751).
Menjaga Keseimbangan Antara Harap dan Takut
Pengetahuan tentang sifat cinta dan murka harus membuahkan amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengejar cinta Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya agar selamat dari murka-Nya. Seorang mukmin yang cerdas akan senantiasa memperbaiki diri karena ia tahu bahwa Allah memperhatikan setiap niat di dalam hati.
Akhirnya, mari kita terus berdoa agar Allah ﷻ memasukkan kita ke dalam golongan hamba yang Dia cintai. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang dapat mengundang amarah-Nya agar kehidupan kita senantiasa diberkahi di dunia maupun di akhirat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

