Aqidah

Penjelasan Sifat Kalam Allah ﷻ

Keimanan kepada Allah ﷻ mencakup keyakinan bahwa Dia memiliki sifat-sifat sempurna. Salah satu sifat yang sangat penting untuk kita pahami adalah sifat Kalam atau berbicara. Melalui sifat inilah, Allah ﷻ menurunkan wahyu kepada para Nabi dan Rasul sebagai petunjuk bagi umat manusia.


Hakikat Sifat Kalam Menurut Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah ﷻ senantiasa berbicara sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, pembicaraan Allah terjadi dengan suara dan huruf yang nyata, namun tidak menyerupai suara makhluk. Keyakinan ini berbeda dengan kelompok yang menganggap pembicaraan Allah hanyalah makna di dalam hati semata.

Allah ﷻ menegaskan sifat ini dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Musa عليه السلام. Perhatikan firman Allah ﷻ berikut:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. (QS. Al-A’raf: 143)

Ayat di atas membuktikan bahwa Allah ﷻ benar-benar berbicara kepada hamba pilihan-Nya secara langsung. Oleh karena itu, kita wajib mengimani sifat ini tanpa melakukan penyerupaan dengan cara manusia berbicara.


Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan Makhluk

Setiap muslim harus meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan Kalamullah (perkataan Allah) secara hakiki. Al-Qur’an bukan sekadar karangan Nabi Muhammad ﷺ maupun perkataan Malaikat Jibril. Meskipun kita membaca dan menulisnya dalam mushaf, kata-kata tersebut berasal langsung dari Allah ﷻ.

Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan tantangan kepada siapa pun yang meragukan kesucian firman-Nya. Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. (QS. At-Taubah: 6)

Ayat ini secara jelas menyebutkan bahwa wahyu yang dibacakan oleh Nabi ﷺ adalah Kalamullah atau firman Allah. Karena itu, kita dilarang keras menyebut Al-Qur’an sebagai makhluk sebagaimana pendapat kelompok yang menyimpang.


Dalil Hadits Tentang Suara Allah ﷻ

Banyak hadits shahih menjelaskan bagaimana Allah ﷻ memanggil hamba-Nya pada hari kiamat nanti. Hal ini menguatkan bahwa pembicaraan Allah dapat didengar oleh makhluk yang Dia kehendaki. Dari Abdullah bin Unais رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَحْشُرُ اللَّهُ الْعِبَادَ فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ

Allah akan mengumpulkan para hamba, kemudian Dia menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: “Akulah Raja, Akulah Yang Maha Membalas.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 970 dan Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2916).

Berdasarkan hadits ini, Abdullah bin Unais رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Allah memiliki suara yang agung. Namun, kita tetap memegang prinsip bahwa suara Allah tidak serupa dengan getaran pita suara atau alat bicara makhluk.


Kesimpulan dan Hikmah Mengimani Sifat Kalam

Mengimani sifat Kalam akan membuat seorang hamba semakin mencintai dan mengagungkan Al-Qur’an. Kita menyadari bahwa ketika membaca Al-Qur’an, kita sedang membaca ucapan Sang Pencipta alam semesta. Hal ini akan menumbuhkan rasa khusyuk dan ketaatan yang mendalam dalam beribadah.

Akhirnya, kita harus menjauhi segala bentuk perdebatan filsafat yang menolak sifat berbicara bagi Allah. Cukuplah kita mengikuti pemahaman para sahabat yang menetapkan sifat ini sesuai dengan kemuliaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger