Bantahan terhadap Tahrif, Ta’thil, Takyif, dan Tamtsil
Dalam memahami nama dan sifat Allah ﷻ, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di jalan tengah yang lurus. Jalan ini mengharuskan kita menjauhi empat penyimpangan besar yang dapat merusak akidah seorang muslim. Mengenal dan membantah keempat penyimpangan ini adalah kunci untuk menjaga kemurnian tauhid kita.
Menghindari Tahrif (Penyelewengan Makna)
Tahrif adalah mengubah makna ayat atau hadits tentang sifat Allah ﷻ dari makna zahirnya ke makna lain yang tidak diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Contohnya adalah mengartikan sifat Istiwa (bersemayam) dengan Istawla (menguasai).
Bantahan terhadap tahrif adalah bahwa Allah ﷻ berbicara dengan bahasa Arab yang jelas. Jika Allah menetapkan suatu sifat, maka itulah maknanya. Allah ﷻ berfirman:
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas (QS. Asy-Syu’ara: 193-195)
Menghindari Ta’thil (Peniadaan Sifat)
Ta’thil adalah menolak atau mengingkari sifat-sifat yang telah Allah ﷻ tetapkan bagi diri-Nya. Orang yang melakukan ta’thil seolah-olah menganggap bahwa sifat yang Allah sebutkan itu tidak ada atau tidak layak bagi-Nya.
Bantahan atas hal ini adalah bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang Allah selain Allah ﷻ sendiri. Rasulullah ﷺ juga orang yang paling mengenal Rabbnya. Sebagaimana dalam hadits dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً
Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah di antara mereka dan yang paling takut kepada-Nya (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 2356, Aisyah meriwayatkan ketegasan Nabi ﷺ dalam ilmu dan takwa).
Menghindari Takyif (Menanyakan Bagaimananya)
Takyif adalah usaha untuk menggambarkan hakikat atau bentuk dari sifat Allah ﷻ. Seseorang yang melakukan takyif akan bertanya “bagaimana” bentuk Tangan Allah atau “bagaimana” cara Allah turun ke langit dunia.
Bantahan terhadap takyif adalah bahwa akal manusia sangat terbatas. Kita bisa mengetahui makna suatu sifat, namun hakikat “bagaimananya” hanya Allah yang tahu. Allah ﷻ berfirman:
وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya (QS. Thaha: 110)
Menghindari Tamtsil (Penyerupaan dengan Makhluk)
Tamtsil atau tasybih adalah menyamakan sifat Allah ﷻ dengan sifat makhluk-Nya. Ini adalah kesyirikan dalam asma’ wa shifat. Misalnya mengatakan “Tangan Allah seperti tangan manusia”.
Bantahan telak terhadap tamtsil terdapat dalam ayat yang menjadi kaidah utama akidah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini membuktikan bahwa Allah memiliki sifat (Mendengar dan Melihat), namun sifat tersebut sama sekali tidak serupa dengan pendengaran dan penglihatan makhluk.
Kesimpulan
Ahlus Sunnah menetapkan sifat bagi Allah ﷻ tanpa tahrif dan ta’thil, serta mensucikan Allah tanpa takyif dan tamtsil. Inilah jalan keselamatan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi رضي الله عنهم dalam mengenal Sang Pencipta.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


