Hadis Bab Shalat
Pandangan Sifat Shalat Nabi: Meneladani Tata Cara Ibadah Rasulullah ﷺ
Mempelajari sifat shalat Nabi merupakan kewajiban bagi setiap muslim agar Allah ﷻ menerima ibadahnya. Kitab Taisirul ‘Alam yang mensyarah matan Umdatul Ahkam menjelaskan secara rinci cara Rasulullah ﷺ mendirikan shalat. Penjelasan ini bersumber dari hadits-hadits shahih yang menjadi standar utama dalam beribadah. Rasulullah ﷺ memberikan instruksi yang sangat tegas kepada umatnya melalui sabda beliau:
صَلَّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Bukhari no. 631).
Oleh karena itu, kita perlu mengikuti contoh Nabi ﷺ secara sempurna mulai dari takbir hingga salam. Artikel ini membahas sebagian sifat shalat Nabi agar menjadi ilmu yang kokoh bagi kita semua.
Pembacaan Doa Istiftah Setelah Takbiratul Ihram
Saat memulai shalat, Rasulullah ﷺ tidak langsung membaca Al-Fatihah, melainkan diam sejenak untuk bermunajat. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan tentang kebiasaan Nabi ﷺ tersebut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُولُ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Apabila Rasulullah ﷺ bertakbir ketika shalat, beliau diam sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang engkau baca saat diam antara takbir dan Al-Fatihah?” Beliau menjawab, “Aku membaca: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan salju, air, dan embun.” (HR. Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598).
Hadits ini memberikan pelajaran bahwa Nabi ﷺ mensunnahkan pembacaan doa istiftah secara sir (suara lirih). Doa ini berisi permohonan agar Allah ﷻ menghapus dosa serta mensucikan hati kita dari noda kemaksiatan. Selain doa di atas, terdapat pula doa istiftah lain yang shahih, seperti:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud no. 775, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Kesempurnaan Gerakan Ruku, Sujud, dan Duduk
Aisyah رضي الله عنها memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai konsistensi Nabi ﷺ dalam setiap gerakan shalat. Beliau menjaga keseimbangan tubuh dan menjauhi larangan-larangan tertentu agar shalat tetap khusyuk. Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ membuka shalat dengan takbir dan bacaan ‘Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin’. Apabila ruku, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, tetapi di antara keduanya. Apabila bangkit dari ruku, beliau tidak bersujud hingga lurus berdiri (i’tidal). Apabila bangkit dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga lurus duduk. Beliau membaca tahiyyat setiap dua rakaat. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (iftirasy). Beliau melarang duduknya setan dan melarang laki-laki menghamparkan kedua lengannya seperti binatang buas. Beliau menutup shalat dengan salam. (HR. Muslim no. 498).
Larangan dalam Gerakan Shalat
Berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها di atas, kita harus menghindari dua cara duduk yang Rasulullah ﷺ larang. Pertama adalah u’qbatisy syaithan, yaitu menduduki kedua tumit dengan menegakkan telapak kaki yang menyerupai cara duduk setan. Kedua, kita tidak boleh menghamparkan kedua lengan di lantai saat sujud seperti anjing atau binatang buas yang sedang mendekam.
Larangan tersebut bertujuan agar seorang muslim tidak terlihat malas saat menghadap Allah ﷻ. Kita harus menunjukkan sikap tegap dan penuh kesungguhan dalam setiap perpindahan rukun shalat. Selain itu, kita harus melakukan i’tidal dan duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah (tenang).
Kesimpulan Sifat Shalat Nabi
Setiap gerakan shalat memiliki aturan yang wajib kita penuhi mulai dari takbiratul ihram hingga salam. Kita wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat dan melakukan ruku dengan punggung yang rata. Selanjutnya, duduk iftirasy menjadi pilihan utama pada tasyahud awal dengan menegakkan kaki kanan menghadap kiblat.
Oleh karena itu, marilah kita terus memperbaiki kualitas shalat dengan merujuk pada sunnah yang shahih. Shalat yang benar akan memberikan ketenangan jiwa dan mencegah kita dari perbuatan keji serta mungkar. Akhirnya, semoga Allah ﷻ menerima setiap sujud kita dan menjadikannya sebagai timbangan kebaikan di hari kiamat kelak.
Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI)

