Mengenal Badal Marfū‘
Kata Ganti yang Menyempurnakan Makna
Dalam tata bahasa Arab, para ulama mengenalkan istilah badal sebagai kata ganti yang mengikuti hukum kata sebelumnya. Badal berfungsi untuk menjelaskan atau menggantikan posisi kata utama dalam sebuah kalimat secara tepat. Artikel ini akan mengulas badal marfū‘, yaitu saat kata pengganti tersebut mengikuti isim yang berkedudukan marfū‘. Pemahaman ini sangat membantu kita ketika membaca Al-Qur’an maupun saat berkomunikasi harian agar susunan kalimat menjadi lebih jelas dan mudah dimengerti.
Definisi Badal dalam Ilmu Nahwu
Para ulama nahwu telah memberikan batasan yang sangat jelas mengenai apa itu badal. Secara istilah, definisi badal adalah:
التَّابِعُ الْمَقْصُودُ بِالْحُكْمِ بِلَا وَاسِطَةٍ
Pengikut yang menjadi tujuan hukum tanpa menggunakan kata perantara.
Oleh karena itu, jika kata yang digantikan (mubdal minhu) berstatus marfū‘, maka badal tersebut otomatis juga harus marfū‘. Kehadiran badal ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih spesifik mengenai siapa atau apa yang sedang menjadi pembicaraan utama dalam sebuah pernyataan.
Contoh Badal dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sering menggunakan struktur badal untuk memberikan penekanan kuat pada identitas tertentu. Allah ﷻ berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS. Ali Imran: 97).
Pada ayat di atas, lafaz مَنِ merupakan badal bagi kata النَّاسِ. Meskipun contoh ini memiliki kedudukan i’rab tertentu, namun ayat tersebut memberikan gambaran jelas bagaimana badal menjelaskan maksud dari kata sebelumnya secara lebih mendalam dan spesifik.
Teladan dari Hadits Nabi ﷺ
Selanjutnya, kita bisa menemukan struktur kalimat yang mengandung unsur penjelasan dalam lisan suci Rasulullah ﷺ. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ
Hendaklah orang yang berkendara memberi salam kepada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan kepada orang yang duduk (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam kaidah ini, jika seseorang menyebutkan subjek yang marfū‘ lalu mengikutinya dengan penjelas, maka kata tersebut menjadi badal. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut:
قَالَ الرَّسُوْلُ مُحَمَّدٌ ﷺ
Telah bersabda Rasul (yaitu) Muhammad ﷺ.
Lafaz مُحَمَّدٌ di sini merupakan badal marfū‘ bagi kata الرَّسُوْلُ yang berkedudukan sebagai pelaku (fā‘il) yang marfū‘.
Penerapan dalam Percakapan Sehari-hari
Supaya lebih mudah dipahami, mari kita lihat penerapan badal dalam komunikasi sehari-hari menggunakan teks Arab sederhana. Berikut adalah beberapa contoh praktis yang bisa Anda terapkan dalam percakapan:
-
Badal Kul min Kul (Seluruhnya): جَاءَ الأُسْتَاذُ أَحْمَدُ Telah datang Ustadz Ahmad. Lafaz أَحْمَدُ di sini menjelaskan secara utuh siapa ustadz yang Anda maksud.
-
Badal Ba’du min Kul (Sebagian): سَقَطَ الْبَيْتُ سَقْفُهُ Rumah itu telah runtuh atapnya. Lafaz سَقْفُهُ merupakan badal marfū‘ karena atap adalah bagian dari rumah yang menjadi subjek.
-
Badal Isytimal (Cakupan Sifat): نَفَعَنِي الزَّيْدُ عِلْمُهُ Zaid telah memberiku manfaat, (yaitu) ilmunya. Lafaz عِلْمُهُ menjelaskan kelebihan atau sifat yang melekat pada diri Zaid.
Pentingnya Belajar Badal untuk Kelancaran Lisan
Mempelajari badal marfū‘ tentu membantu Anda menghindari kerancuan saat berbicara atau menulis dalam bahasa Arab. Selain itu, Anda akan lebih mampu menghayati keindahan bahasa Al-Qur’an yang penuh dengan ketelitian struktur kalimat. Oleh karena itu, mari kita terus mengasah kemampuan bahasa Arab sebagai sarana untuk memahami agama dengan lebih baik. Melalui penguasaan yang benar, setiap dalil yang kita baca akan terasa lebih meresap ke dalam sanubari.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

