Sirah

Pemboikotan Quraisy terhadap Bani Hasyim

Ujian Kesabaran di Lembah Abu Thalib

Dakwah Islam di Makkah semakin menguat setelah Hamzah dan Umar memeluk Islam. Hal ini membuat kaum musyrikin Quraisy merasa terancam dan kehilangan cara untuk menghentikan Rasulullah ﷺ. Akhirnya, mereka menyepakati sebuah langkah keji berupa pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib.


Perjanjian Zalim di Ka’bah

Kaum Quraisy berkumpul untuk merumuskan piagam pemboikotan yang sangat tidak manusiawi. Mereka menuliskan poin-poin perjanjian tersebut di atas selembar perkamen dan menggantungnya di dalam Ka’bah. Akibatnya, hubungan sosial dan ekonomi antara penduduk Makkah dengan keluarga besar Nabi ﷺ terputus sepenuhnya.

Isi utama perjanjian tersebut meliputi larangan untuk menikahi anggota keluarga Bani Hasyim. Selain itu, mereka melarang segala bentuk jual beli barang maupun makanan kepada pengikut Rasulullah ﷺ. Perjanjian ini bertujuan untuk menekan Nabi ﷺ agar berhenti berdakwah atau diserahkan kepada kaum Quraisy untuk dibunuh.

Penderitaan di Syi’ab Abu Thalib

Bani Hasyim dan Bani Muthalib terpaksa mengungsi ke sebuah lembah sempit bernama Syi’ab Abu Thalib. Meskipun tidak semua anggota keluarga tersebut masuk Islam, mereka tetap setia membela Rasulullah ﷺ karena ikatan kekeluargaan. Selama tiga tahun, mereka hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan karena kekurangan pasokan logistik.

Rasa lapar yang hebat menghimpit anak-anak dan orang dewasa hingga mereka terpaksa memakan dedaunan kering. Suara tangis bayi yang kelaparan terdengar dari luar lembah, namun kaum Quraisy tetap menutup hati mereka. Meskipun demikian, Allah ﷻ senantiasa menguatkan hati para hamba-Nya yang beriman.

Allah ﷻ berfirman mengenai ujian bagi orang beriman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan). (Al-Baqarah: 214)

Berakhirnya Pemboikotan secara Ajaib

Penderitaan panjang ini akhirnya berakhir pada tahun kesepuluh kenabian melalui pertolongan Allah ﷻ. Beberapa tokoh Quraisy yang masih memiliki rasa kemanusiaan mulai merasa keberatan dengan kezaliman tersebut. Secara bersamaan, Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada pamannya, Abu Thalib, bahwa rayap telah memakan piagam pemboikotan di Ka’bah.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa rayap tersebut hanya menyisakan tulisan yang mengandung nama Allah ﷻ saja. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ketika mereka memeriksa piagam tersebut, ternyata kabar dari Nabi ﷺ benar adanya.

Abu Hurairah رضي الله عنه menceritakan tentang tempat terjadinya pemboikotan ini:

نَحْنُ نَازِلُونَ غَدًا بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ ، حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الكُفْرِ

Besok kita akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka (kaum kafir) saling bersumpah untuk melakukan kekafiran (pemboikotan). (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah ﷻ dalam melindungi Rasul-Nya. Bani Hasyim akhirnya keluar dari lembah dengan penuh kemuliaan setelah melalui ujian yang sangat berat. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesabaran dalam kebenaran pasti akan membuahkan kemenangan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger