Shalat I’dain
Menghidupkan Kegembiraan Hari Raya Sesuai Sunnah
Umat Islam memiliki dua hari besar yang penuh berkah setiap tahunnya. Kita mengenal keduanya dengan sebutan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk menyambut hari istimewa tersebut, Rasulullah ﷺ mensyariatkan Shalat I’dain atau shalat dua hari raya sebagai bentuk syukur kepada Allah ﷻ.
Hukum Shalat I’dain
Para ulama memiliki pendapat berbeda mengenai hukum shalat ini, namun pendapat yang paling kuat menyatakan hukumnya adalah wajib bagi setiap laki-laki (fardhu ain). Rasulullah ﷺ bahkan memerintahkan para wanita untuk tetap keluar menuju tempat shalat meskipun sedang berhalangan.
Hal ini sesuai dengan hadits dari Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها yang berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ
Ummu ‘Athiyyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk mengeluarkan para gadis, wanita yang sedang haid, serta wanita yang dipingit pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun wanita yang haid, maka mereka menjauhi tempat shalat, namun tetap menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin (HR. Bukhari dan Muslim).
Tata Cara Shalat Dua Hari Raya
Pelaksanaan shalat Id memiliki perbedaan teknis jika kita bandingkan dengan shalat lima waktu. Berikut adalah urutannya:
1. Tanpa Adzan dan Iqamah
Muslimin langsung memulai shalat tanpa seruan adzan maupun iqamah. Hal ini merujuk pada keterangan Jabir bin Samurah رضي الله عنه:
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
Jabir bin Samurah رضي الله عنه berkata: Aku shalat dua hari raya bersama Rasulullah ﷺ bukan hanya sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa pula iqamah (HR. Muslim).
2. Jumlah Takbir Tambahan
Pada rakaat pertama, imam dan makmum melakukan takbir sebanyak tujuh kali sebelum membaca Al-Fatihah. Kemudian pada rakaat kedua, kita melakukan takbir sebanyak lima kali.
Aisyah رضي الله عنها menceritakan hal tersebut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا
Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bertakbir pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Adab dan Sunnah Hari Raya
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa kebiasaan mulia agar suasana hari raya semakin berkesan. Pertama, umat Islam disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat. Kedua, kita sebaiknya memakai pakaian terbaik yang kita miliki.
Selain itu, Nabi ﷺ membedakan waktu makan antara dua hari raya tersebut. Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya رضي الله عنه:
كَانَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
Buraidah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha sampai beliau shalat (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Terakhir, cobalah untuk mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat shalat. Langkah ini bertujuan untuk syiar Islam dan memperbanyak silaturahmi dengan sesama muslim di sepanjang jalan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


