Sirah

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

Pilar Kekuatan Masyarakat Madinah

Keberhasilan pembangunan Masjid Nabawi menandai berdirinya pusat peribadahan bagi umat Islam di Madinah. Namun, Rasulullah ﷺ menyadari bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kesatuan hati para penduduknya. Oleh karena itu, beliau ﷺ segera mengambil langkah revolusioner dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam satu ikatan ukhuwah.


Langkah Strategis Rasulullah ﷺ dalam Mempersaudarakan Umat

Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat di rumah Anas bin Malik رضي الله عنه untuk meresmikan ikatan persaudaraan ini. Beliau ﷺ memasangkan satu orang Muhajirin dengan satu orang Anshar agar mereka saling tolong-menolong dalam urusan dunia maupun akhirat. Kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan rasa keterasingan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan harta serta keluarga di Makkah.

Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan peristiwa bersejarah tersebut dalam sebuah riwayat yang shahih:

آخَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَيْنَ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الجَرَّاحِ وَبَيْنَ أَبِي طَلْحَةَ

Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan Abu Thalhah. (HR. Muslim).

Pengorbanan Luar Biasa Kaum Anshar

Penduduk Madinah atau kaum Anshar menyambut instruksi Nabi ﷺ dengan kedermawanan yang sangat menakjubkan sepanjang sejarah manusia. Mereka menawarkan separuh dari harta, rumah, bahkan kebun kurma mereka untuk dibagikan kepada saudara baru mereka dari Makkah. Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ رضي الله عنه.

Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه menceritakan bahwa Sa’ad menawarkan separuh hartanya secara sukarela kepadanya. Akan tetapi, Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه menunjukkan harga diri yang tinggi dengan meminta petunjuk menuju pasar untuk berdagang. Keluhuran budi kaum Anshar ini kemudian Allah ﷻ abadikan sebagai teladan bagi seluruh umat manusia.

Allah ﷻ berfirman mengenai sifat mementingkan orang lain yang dimiliki kaum Anshar:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9)

Hikmah Persaudaraan dalam Dakwah Islam

Ikatan persaudaraan ini berhasil menghapuskan fanatisme kesukuan yang sebelumnya sangat kuat di tanah Arab. Rasulullah ﷺ membangun fondasi masyarakat yang berdiri di atas landasan iman, bukan lagi berdasarkan garis keturunan atau warna kulit. Kekuatan ukhuwah ini selanjutnya menjadi modal utama bagi kaum Muslimin dalam menghadapi berbagai tantangan besar di masa depan.

Oleh sebab itu, persatuan antara Muhajirin dan Anshar menciptakan stabilitas sosial yang sangat kokoh di Madinah. Mereka bekerja sama membangun ekonomi dan menjaga keamanan kota dengan penuh rasa tanggung jawab. Akhirnya, sejarah mencatat bahwa keberhasilan dakwah Islam bermula dari hati yang saling mencintai karena Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger