Fiqih

Fiqih Silaturahmi

Membangun Kasih Sayang dan Keberkahan Hidup

Agama Islam sangat menekankan hubungan baik antar sesama manusia, terutama dengan kerabat dekat. Silaturahmi bukan sekadar berkunjung, melainkan sebuah ibadah yang memiliki landasan hukum yang kuat dalam syariat. Melalui artikel ini, kita akan mempelajari bagaimana cara menyambung tali persaudaraan agar mendatangkan ridha Allah ﷻ.


Makna Silaturahmi dalam Islam

Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang berarti menyambung tali kasih sayang. Secara khusus, istilah ini merujuk pada hubungan baik dengan kerabat yang memiliki ikatan nasab atau darah. Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga hubungan ini agar tercipta kedamaian dalam keluarga dan masyarakat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. An-Nisa: 1).


Keutamaan Menyambung Tali Silaturahmi

Banyak sekali manfaat yang akan diperoleh oleh seorang Muslim jika ia rajin menjalin komunikasi dengan kerabatnya. Selain mendapatkan pahala, silaturahmi juga menjadi wasilah atau perantara bagi datangnya rezeki dan umur yang berkah.

Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan janji Rasulullah ﷺ:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).


Bahaya Memutus Silaturahmi

Islam memberikan peringatan yang sangat keras kepada siapa saja yang dengan sengaja memutus hubungan dengan kerabatnya. Tindakan ini termasuk dosa besar yang dapat menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Oleh karena itu, kita harus berusaha memperbaiki hubungan meskipun kerabat tersebut berbuat tidak baik kepada kita.

Jubair bin Muth’im رضي الله عنه meriwayatkan ancaman tersebut:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Jubair bin Muth’im رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).


Hakikat Penyambung Silaturahmi yang Sejati

Seorang penyambung silaturahmi yang sebenarnya bukanlah orang yang hanya berkunjung saat hubungan sedang baik. Justru, kemuliaan itu muncul ketika seseorang tetap berbuat baik kepada kerabat yang telah memutus hubungan dengannya. Kita harus menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga agar perselisihan tidak berlarut-larut.

Abdullah bin Amr رضي الله عنهما menyampaikan sabda Nabi ﷺ:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Abdullah bin Amr رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: Penyambung silaturahmi itu bukanlah orang yang membalas kebaikan orang lain, akan tetapi penyambung silaturahmi adalah orang yang jika hubungan rahimnya diputus, ia tetap menyambungnya (HR. Bukhari).

Sebagai kesimpulan, mari kita periksa kembali hubungan kita dengan orang tua, saudara, dan kerabat lainnya. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang gemar menyambung kasih sayang dan menjauhkan kita dari sifat saling memusuhi.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger