Na‘at Marfū‘
Pengantar
Dalam ilmu nahwu, na‘at (النعت) atau sifat adalah isim yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan isim sebelumnya yang disebut man‘ūt (المنعوت). Na‘at memiliki kedudukan penting karena memberikan penjelasan tambahan tentang sifat, keadaan, atau ciri suatu isim. Salah satu pembahasan awal dalam bab na‘at adalah na‘at marfū‘, yaitu na‘at yang mengikuti man‘ūtnya dalam keadaan rafa‘.
Pengertian Na‘at Marfū‘
Na‘at marfū‘ adalah na‘at yang berstatus marfū‘ karena man‘ūtnya juga marfū‘. Dalam kaidah nahwu, na‘at selalu mengikuti man‘ūt dalam empat perkara utama:
-
I‘rāb (rafa‘, naṣb, jarr),
-
Ma‘rifah dan nakirah,
-
Jenis (mudzakkar dan muannats),
-
Bilangan (mufrad, tatsniyah, jamak).
Jika man‘ūt berstatus marfū‘, maka na‘at yang mengikutinya juga marfū‘, dan inilah yang disebut na‘at marfū‘.
Contoh Dasar Na‘at Marfū‘
-
رَجُلٌ صالحٌ
Laki-laki yang saleh.
Keterangan:
-
رجل= man‘ūt (isim marfū‘),
-
صالحٌ = na‘at marfū‘ yang menjelaskan sifat Laki-laki.
Kedudukan Na‘at Marfū‘ dalam Kalimat
Na‘at marfū‘ biasanya muncul ketika man‘ūt menempati kedudukan marfū‘, seperti:
-
Mubtada’,
-
Khabar,
-
Fā‘il,
-
Nā’ibul fā‘il.
Na‘at Marfū‘ sebagai Sifat Mubtada’
Jika mubtada’ bersifat marfū‘, maka na‘at yang mengikutinya juga marfū‘.
Contoh:
-
المؤمنُ الصادقُ محبوبٌ
Orang mukmin yang jujur itu dicintai.
Di sini:
-
المؤمنُ adalah mubtada’,
-
الصادقُ adalah na‘at marfū‘ bagi mubtada’.
Na‘at Marfū‘ sebagai Sifat Khabar
Na‘at juga bisa menjelaskan khabar yang berstatus marfū‘.
Contoh:
-
اللهُ غفورٌ رحيمٌ
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kata غفورٌ adalah khabar, dan رحيمٌ adalah na‘at marfū‘ yang menjelaskan khabar tersebut.
Na‘at Marfū‘ sebagai Sifat Fā‘il
Jika fā‘il berstatus marfū‘, maka na‘at yang mengikutinya juga marfū‘.
Contoh:
-
جاءَ الطالبُ المجتهدُ
Telah datang siswa yang rajin.
Kata الطالبُ adalah fā‘il, dan المجتهدُ adalah na‘at marfū‘ yang menjelaskan fā‘il.
Na‘at Marfū‘ sebagai Sifat Nā’ibul Fā‘il
Na‘at juga dapat mengikuti nā’ibul fā‘il yang marfū‘.
Contoh:
-
كُرِّمَ الطالبُ المتفوقُ
Siswa yang berprestasi itu telah dimuliakan.
Kata الطالبُ adalah nā’ibul fā‘il, sedangkan المتفوقُ adalah na‘at marfū‘.
Dalil dari Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 173)
Pada ayat ini:
-
غفورٌ adalah khabar marfū‘,
-
رحيمٌ adalah na‘at marfū‘ yang menjelaskan khabar tersebut.
Dalil Hadits
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini:
-
المؤمنُ adalah isim marfū‘,
-
القويُّ adalah na‘at marfū‘ yang menjelaskan sifat mukmin tersebut.
Atsar Ulama
Imam Ibn Mālik رحمه الله berkata dalam Alfiyyah:
وَالنَّعْتُ يَتْبَعُ الْمَنْعُوتَ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَجَرِّهِ
“Na‘at mengikuti man‘ūt dalam rafa‘, naṣb, dan jarr.”
Kaidah ini menjadi dasar utama dalam memahami na‘at, termasuk na‘at marfū‘.
Kesalahan Umum dalam Na‘at Marfū‘
-
Tidak menyamakan i‘rāb antara na‘at dan man‘ūt.
-
Salah dalam menyamakan mudzakkar–muannats atau mufrad–jamak.
-
Mengira semua sifat pasti manṣūb, padahal tergantung man‘ūtnya.
Kesimpulan
Na‘at marfū‘ adalah sifat yang mengikuti man‘ūt yang berstatus marfū‘, baik sebagai mubtada’, khabar, fā‘il, maupun nā’ibul fā‘il. Na‘at selalu mengikuti man‘ūt dalam i‘rāb, jenis, bilangan, serta kejelasan makna. Pemahaman na‘at marfū‘ sangat penting untuk membaca dan menyusun kalimat bahasa Arab dengan benar.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


