Bahasa Arab

Memahami Dhamir Marfū‘

Kata Ganti yang Menguatkan Kalimat

Bahasa Arab memiliki keunikan dalam penggunaan kata ganti untuk menggantikan nama orang atau benda. Salah satu pembahasan yang paling mendasar namun sangat krusial adalah dhamir marfū‘. Kata ganti ini menempati kedudukan rafa‘, biasanya berperan sebagai subjek dalam sebuah kalimat. Dengan mempelajari kaidah ini, kita dapat menyusun kalimat dengan lebih tepat sekaligus memahami pesan-pesan dalam kitab suci secara lebih mendalam.

Definisi Dhamir dalam Ilmu Nahwu

Para pakar bahasa Arab mendefinisikan dhamir sebagai kata yang mewakili pembicara, lawan bicara, atau orang ketiga. Dalam kitab-kitab nahwu, definisi dhamir dijelaskan sebagai berikut:

هُوَ مَا وُضِعَ لِمُتَكَلِّمٍ أَوْ مُخَاطَبٍ أَوْ غَائِبٍ

Dhamir adalah apa yang diletakkan untuk menunjukkan pembicara, lawan bicara, atau orang yang tidak ada (pihak ketiga).

Selanjutnya, dhamir marfū‘ terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu yang tampak secara terpisah (munfashil) dan yang bersambung dengan kata kerja (muttashil). Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga struktur kalimat agar tetap benar sesuai dengan kaidah i’rab.

Contoh Dhamir Marfū‘ dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an sering menggunakan dhamir marfū‘ munfashil untuk menegaskan jati diri Allah ﷻ atau kedudukan hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah: 163).

Pada ayat di atas, kata هُوَ merupakan dhamir marfū‘ yang berkedudukan sebagai mubtada’ (subjek awal). Selain itu, penggunaan kata ganti ini memberikan penekanan bahwa hanya Allah ﷻ yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Teladan dari Hadits Nabi ﷺ

Kita juga menemukan penggunaan dhamir marfū‘ muttashil yang melekat pada kata kerja dalam ucapan Rasulullah ﷺ. Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim).

Kata نَوَى sebenarnya mengandung dhamir tersembunyi (mustatir) yang kembali kepada subjek laki-laki tunggal. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab sangat ringkas namun kaya akan makna karena kata ganti bisa menyatu di dalam sebuah kata kerja.

Penerapan dalam Percakapan Sehari-hari

Untuk memperlancar lisan, kita perlu mempraktikkan penggunaan dhamir marfū‘ dalam berbagai situasi komunikasi. Berikut adalah beberapa contoh sederhana yang bisa langsung digunakan:

  1. Menggunakan Dhamir Munfashil (Terpisah): أَنَا مُسْلِمٌ Saya adalah seorang muslim. هُوَ أُسْتَاذِي Dia adalah guruku.

  2. Menggunakan Dhamir Muttashil (Bersambung pada Kata Kerja): ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ Aku telah pergi ke masjid. (Huruf ت pada kata ذَهَبْتُ adalah dhamir marfū‘ sebagai pelaku).

  3. Menggunakan Dhamir untuk Jamak (Banyak Orang): نَحْنُ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ Kami sedang membaca Al-Qur’an.

Tentu saja, penggunaan kata ganti yang tepat akan membuat lawan bicara lebih mudah memahami siapa yang sedang kita maksud dalam pembicaraan tersebut.

Manfaat Mempelajari Dhamir secara Konsisten

Setelah kita memahami dasar-dasar ini, membaca teks Arab akan terasa jauh lebih ringan. Selain itu, pemahaman dhamir mencegah kita dari kesalahan dalam menisbatkan suatu perbuatan kepada orang yang salah. Oleh karena itu, mari kita terus bersemangat mempelajari kaidah bahasa Arab sebagai kunci untuk membuka gudang ilmu keislaman yang luas. Dengan niat yang ikhlas, setiap langkah kita dalam belajar akan menjadi pahala di sisi Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger