Aqidah

Penjelasan Tentang Istiwa’

Memahami keberadaan Allah ﷻ merupakan pondasi penting dalam akidah seorang muslim. Salah satu pembahasan yang sangat mendasar adalah tentang sifat Istiwa’. Istiwa’ merujuk pada ketinggian Allah ﷻ di atas singgasana-Nya yang agung, yakni Arsy.

Makna Istiwa’ Menurut Bahasa dan Syariat

Secara bahasa, para ulama salaf menjelaskan bahwa Istiwa’ memiliki empat makna utama. Makna tersebut adalah tinggi (‘ala), naik (irtafa’a), menetap (stakarra), dan membumbung (sha’ida). Oleh karena itu, kita mengimani bahwa Allah ﷻ berada di atas seluruh makhluk-Nya.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa makna ini sangat jelas dalam bahasa Arab. Namun, kita tidak boleh menyamakan cara Allah beristiwa dengan cara makhluk duduk atau menetap. Allah ﷻ berfirman dalam tujuh tempat di Al-Qur’an, salah satunya:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thaha: 5)

Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah

Banyak sekali dalil yang menunjukkan ketinggian Allah ﷻ di atas langit. Dalil-dalil ini memberikan keyakinan bahwa Allah tidak berada di mana-mana secara zat, melainkan Zat-Nya di atas Arsy sementara ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Selanjutnya, kita bisa merujuk pada percakapan Rasulullah ﷺ dengan seorang budak wanita. Hadits ini menjadi bukti kuat tentang di mana Allah berada. Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bertanya kepada budak tersebut:

أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Di mana Allah? Budak itu menjawab: Di atas langit. Nabi bertanya lagi: Siapa aku? Dia menjawab: Engkau adalah Rasulullah. Maka Nabi ﷺ bersabda kepada majikannya: Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita mukminah (HR. Muslim no. 537).

Berdasarkan hadits ini, Rasulullah ﷺ membenarkan jawaban bahwa Allah berada di atas langit. Pengakuan ini bahkan menjadi syarat untuk menilai keimanan seseorang.

Jawaban Imam Malik yang Fenomenal

Umat Islam sering merujuk pada ucapan Imam Malik bin Anas saat menghadapi penanya yang mencoba mencari tahu hakikat bentuk Istiwa’. Beliau memberikan jawaban yang memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia.

Imam Malik رضي الله عنه menegaskan prinsip penting sebagai berikut:

اَلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Istiwa’ itu maknanya sudah diketahui, sedangkan bagaimananya tidak mungkin dapat dinalar, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimananya adalah bid’ah.

Melalui penjelasan ini, kita paham bahwa tugas kita adalah mengimani teks dalil tersebut. Kita tidak perlu membayangkan atau mereka-reka bentuk Arsy maupun cara Allah berada di atasnya.

Mengapa Kita Harus Menolak Istiwa’ Berarti Menguasai?

Beberapa pihak mencoba mengubah makna Istiwa’ menjadi Istawla yang berarti menguasai. Namun, Ahlus Sunnah menolak tafsiran ini karena tidak memiliki landasan dari para sahabat. Jika kita mengartikan menguasai, seolah-olah sebelumnya Arsy dikuasai oleh pihak lain selain Allah.

Sebaliknya, Allah ﷻ senantiasa menguasai seluruh alam semesta sejak dahulu kala. Maka dari itu, mengartikan Istiwa’ dengan menguasai merupakan bentuk penyelewengan makna yang berbahaya. Kita harus tetap berpegang pada pemahaman para salafus shalih.

Kesimpulan

Sifat Istiwa’ adalah sifat yang menunjukkan keagungan dan ketinggian Allah ﷻ. Kita menetapkan sifat ini sebagaimana yang Allah kabarkan tanpa melakukan penyerupaan dengan makhluk. Keimanan yang benar akan melahirkan ketundukan dan rasa diawasi oleh Allah Yang Maha Tinggi.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger