Bahasa Arab

Memahami Maf‘ūl Bih

Mengenal Objek dalam Kalimat Bahasa Arab

Dalam menyusun kalimat sempurna, kita sering kali memerlukan sebuah objek untuk melengkapi perbuatan yang kita lakukan. Bahasa Arab menyebut istilah objek ini dengan Maf‘ūl Bih. Berbeda dengan subjek yang berstatus marfū‘, Maf‘ūl Bih selalu berada dalam kondisi manshūb atau berharakat akhir fathah pada umumnya. Artikel ini akan mengulas tuntas mengenai Maf‘ūl Bih agar Anda semakin mahir memahami struktur kalimat dalam nash agama maupun percakapan sehari-hari.

Definisi Maf‘ūl Bih dalam Ilmu Nahwu

Para ulama nahwu mendefinisikan Maf‘ūl Bih sebagai isim yang menjadi sasaran dari sebuah perbuatan. Secara istilah, definisinya adalah sebagai berikut:

الْمَفْعُولُ بِهِ هُوَ الِاسْمُ الْمَنْصُوبُ الَّذِي يَقَعُ عَلَيْهِ فِعْلُ الْفَاعِلِ

Maf‘ūl Bih adalah isim manshūb yang menjadi objek sasaran dari perbuatan si pelaku.

Oleh karena itu, setiap kali Anda menyebutkan sebuah pekerjaan yang membutuhkan objek, maka kata tersebut harus Anda baca dengan harakat nashab. Keberadaan Maf‘ūl Bih ini sangat krusial agar maksud dari sebuah kalimat menjadi utuh dan tidak menggantung bagi pendengarnya.

Contoh Maf‘ūl Bih dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggunakan susunan Maf‘ūl Bih untuk menunjukkan perintah, berita, maupun bimbingan. Allah ﷻ berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (QS. An-Nisa: 36).

Pada ayat di atas, lafaz اللَّهَ berkedudukan sebagai Maf‘ūl Bih karena menjadi objek dari perintah ibadah. Selanjutnya, penggunaan harakat fathah pada lafaz kemuliaan tersebut menandakan bahwa ia adalah sasaran perbuatan yang diperintahkan kepada manusia.

Teladan dari Hadits Nabi ﷺ

Kita juga banyak menemukan penggunaan objek dalam lisan suci Rasulullah ﷺ saat beliau memberikan wasiat. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa melapangkan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat (HR. Muslim).

Perhatikan lafaz كُرْبَةً dalam hadits tersebut. Kata ini menempati posisi Maf‘ūl Bih karena ia merupakan sasaran dari perbuatan “melapangkan”. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengucapkannya dengan harakat fathah sebagai tanda nashab.

Penerapan dalam Percakapan Sehari-hari

Supaya Anda lebih terbiasa, mari kita lihat beberapa contoh praktis Maf‘ūl Bih yang bisa Anda gunakan saat berinteraksi dengan orang lain:

  1. Kegiatan Makan dan Minum: شَرِبْتُ الْمَاءَ Aku telah meminum air. (Lafaz الْمَاءَ adalah objek yang diminum).

  2. Membaca dan Belajar: قَرَأَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ Siswa itu telah membaca pelajaran. (Lafaz الدَّرْسَ menjadi sasaran dari perbuatan membaca).

  3. Interaksi Sosial: قَابَلْتُ الْمُدِيْرَ Aku telah menemui direktur. (Lafaz الْمُدِيْرَ adalah orang yang ditemui).

Dengan memahami pola ini, Anda dapat merangkai kata dengan lebih sistematis. Selain itu, penggunaan objek yang tepat akan menghindarkan Anda dari kesalahpahaman makna saat berkomunikasi dalam bahasa Arab sederhana.

Pentingnya Ketelitian dalam Harakat Nashab

Mempelajari Maf‘ūl Bih tentu menuntut ketelitian Anda dalam memberikan harakat akhir. Meskipun pada umumnya bertanda fathah, ada beberapa isim yang memiliki tanda nashab berbeda, seperti ya’ pada bentuk jamak. Namun, bagi pemula, fokus pada harakat fathah sudah menjadi langkah awal yang sangat baik. Oleh karena itu, mari kita terus menggali ilmu nahwu ini agar setiap bacaan Al-Qur’an dan doa-doa kita semakin berkualitas dan sesuai dengan kaidah bahasa yang benar.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger