Sirah

Pertemuan dengan Kaum Yatsrib

Sejarah Bai’at Aqabah I yang Mengubah Dunia

Cahaya terang mulai muncul bagi dakwah Islam setelah masa-masa sulit di Makkah dan Thaif. Rasulullah ﷺ memanfaatkan musim haji untuk menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah Arab yang datang berkunjung. Pada tahun kedua belas kenabian, sebuah pertemuan bersejarah terjadi di sebuah tempat bernama Aqabah yang melibatkan dua belas orang dari Yatsrib.


Awal Pertemuan di Bukit Aqabah

Sebanyak dua belas orang laki-laki dari suku Aus dan Khazraj menemui Rasulullah ﷺ secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Mereka sebelumnya telah mendengar kabar tentang kenabian Muhammad ﷺ dari tetangga mereka yang beragama Yahudi di Yatsrib. Pertemuan ini bertujuan untuk menyatakan keimanan sekaligus mengikat janji setia kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Kelompok kecil ini menyadari bahwa ajaran Islam merupakan jawaban atas pertikaian panjang antara suku Aus dan Khazraj. Oleh karena itu, mereka menerima dakwah Nabi ﷺ dengan hati yang lapang dan penuh harapan akan kedamaian. Pertemuan ini kemudian dikenal dalam catatan sirah nabawiyah sebagai Bai’at Aqabah Pertama atau Bai’at An-Nisa’ (Janji Setia Wanita).

Isi Perjanjian Bai’at Aqabah I

Ubadah bin Shamit رضي الله عنه, yang merupakan salah satu peserta pertemuan tersebut, menceritakan poin-poin penting dalam perjanjian mereka. Rasulullah ﷺ menekankan dasar-dasar tauhid dan akhlak mulia sebagai landasan utama bagi masyarakat baru di Yatsrib. Mereka berjanji untuk setia menjalankan perintah agama meskipun berada di lingkungan yang masih penuh dengan kesyirikan.

Ubadah bin Shamit رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعَالَوْا بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلاَ تَسْرِقُوا، وَلاَ تَزْنُوا، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ

Kemarilah, berbai’atlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anak kalian. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mus’ab bin Umair: Duta Islam Pertama

Rasulullah ﷺ mengutus Mus’ab bin Umair رضي الله عنه untuk ikut serta kembali ke Yatsrib setelah proses bai’at selesai. Tugas utama Mus’ab adalah membacakan Al-Qur’an serta mengajarkan prinsip-prinsip Islam kepada penduduk setempat. Keberangkatan Mus’ab bin Umair رضي الله عنه ini menandai babak baru penyebaran Islam yang sangat masif di luar kota Makkah.

Allah ﷻ senantiasa memuji orang-orang yang memberikan pertolongan kepada agama-Nya dengan tulus. Semangat kaum Yatsrib ini menjadi pembuka jalan bagi peristiwa besar yang akan terjadi di kemudian hari.

Allah ﷻ berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. (At-Taubah: 100)

Selanjutnya, keberhasilan dakwah Mus’ab bin Umair رضي الله عنه membuat hampir setiap rumah di Yatsrib membicarakan tentang Islam. Hasil dari pertemuan singkat di Aqabah ini ternyata mampu mengubah peta sejarah peradaban manusia selamanya. Akhirnya, persiapan untuk hijrah besar-besaran pun mulai tersusun dengan sangat rapi melalui keimanan mereka.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger