Perbedaan Asma’ Allah dengan Makhluk
Memahami nama-nama Allah ﷻ atau Asma’ul Husna menuntut ketelitian dalam akidah. Sering kali manusia menemukan kesamaan istilah antara nama Allah dengan nama makhluk, seperti “Mendengar” atau “Melihat”. Namun, kesamaan nama tersebut tidak berarti memiliki hakikat yang sama dalam kenyataannya.
Kesamaan Nama Bukan Berarti Kesamaan Hakikat
Prinsip dasar dalam akidah Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa kesamaan dalam penyebutan nama tidak mengharuskan kesamaan bentuk. Sebagai contoh, manusia memiliki “tangan” dan gajah pun memiliki “tangan” (belalai), namun keduanya sangat berbeda. Jika sesama makhluk saja memiliki perbedaan yang nyata, maka perbedaan antara Pencipta dan makhluk jauh lebih besar.
Allah ﷻ menegaskan perbedaan mutlak ini dalam firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11)
Meskipun Allah menyebut diri-Nya Maha Mendengar dan manusia juga bisa mendengar, pendengaran Allah bersifat sempurna. Sebaliknya, pendengaran manusia sangat terbatas oleh jarak, frekuensi, dan waktu.
Sifat Allah Bersifat Sempurna dan Abadi
Perbedaan mencolok lainnya terletak pada kesempurnaan sifat yang terkandung dalam nama tersebut. Nama Allah ﷻ selalu mengandung puncak kesempurnaan tanpa ada kekurangan sedikit pun. Selain itu, nama dan sifat Allah bersifat abadi dan tidak akan pernah sirna.
Selanjutnya, kita dapat melihat bahwa nama makhluk selalu disertai dengan kekurangan dan ketergantungan. Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kemuliaan makhluk akan berakhir dengan kematian. Namun, Allah ﷻ tetap memiliki nama dan sifat keagungan tersebut selamanya tanpa awal dan tanpa akhir.
Dalil Hadits Mengenai Keagungan Allah ﷻ
Rasulullah ﷺ sering kali mengingatkan umatnya agar tidak menyamakan Allah dengan bayangan pikiran manusia. Allah ﷻ adalah Dzat yang menciptakan segala sesuatu, sehingga tidak mungkin ciptaan meliputi hakikat Penciptanya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ
Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman: “Akulah Raja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. Bukhari no. 4812 dan Muslim no. 2787).
Hadits yang Abu Hurairah رضي الله عنه sampaikan ini menunjukkan kekuatan Allah yang tidak tertandingi oleh raja mana pun di dunia. Walaupun manusia menggunakan gelar “raja”, kekuasaan mereka hanyalah titipan yang sangat kecil dan penuh kelemahan.
Kesimpulan
Mengetahui perbedaan antara nama Allah dan makhluk akan menjaga kita dari lubang kesyirikan. Kita menetapkan nama bagi Allah sebagaimana yang Dia tetapkan, namun kita menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk. Keimanan yang benar ini akan melahirkan pengagungan yang tulus kepada Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

