Adab Berbicara dalam Al-Qur’an
Menjaga Lisan Menggapai Ridha Allah
Adab berbicara mencerminkan kualitas iman serta kepribadian seorang Muslim. Di samping itu, lisan yang terjaga dapat menjadi jalan menuju surga, sementara lisan yang buruk berisiko menjerumuskan ke neraka. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat detail mengenai cara manusia seharusnya bertutur kata.
Perintah Berkata Baik dan Benar
Secara mendasar, Allah ﷻ memerintahkan setiap hamba-Nya agar selalu memilih kata-kata terbaik saat berkomunikasi. Selain itu, ucapan yang benar atau qaulan sadida akan membawa dampak positif bagi kualitas amal ibadah lainnya. Maka dari itu, kejujuran dalam berbicara menjadi kunci utama bagi perbaikan berbagai urusan hidup manusia.
Allah ﷻ berfirman dalam ayat-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70)
Larangan Mencela dan Berkata Buruk
Selanjutnya, setiap individu harus sangat berhati-hati agar tidak menyakiti perasaan orang lain melalui lisan. Tentu saja, Islam melarang keras perbuatan mengolok-olok atau memanggil sesama dengan sebutan yang buruk. Hal ini dikarenakan malaikat mencatat setiap kata yang keluar dari mulut setiap manusia tanpa terkecuali.
Allah ﷻ memberikan peringatan melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). (QS. Al-Hujurat: 11)
Hubungan Iman dengan Penjagaan Lisan
Bukan hanya dalam Al-Qur’an, namun Rasulullah ﷺ juga mengaitkan kesempurnaan iman seseorang dengan adab berbicaranya. Beliau ﷺ menekankan bahwa orang beriman sejati hanya akan berkata baik atau memilih untuk diam. Oleh sebab itu, diam seringkali menjadi pilihan yang jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa membawa manfaat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelembutan dalam Bertutur Kata
Supaya lawan bicara dapat menerima nasihat dengan baik, maka seseorang perlu menggunakan bahasa yang lemah lembut. Bahkan, ketika Nabi Musa عليه السلام menghadapi Firaun yang melampaui batas, Allah ﷻ tetap memerintahkan penggunaan tutur kata yang halus. Hal ini membuktikan bahwa kelembutan memiliki kekuatan pengaruh yang lebih besar daripada kekasaran.
Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya. (HR. Muslim).
Kesimpulan
Pada akhirnya, menjaga adab berbicara merupakan bentuk ketaatan yang nyata kepada Allah ﷻ. Melalui lisan yang santun, manusia dapat menjaga keharmonisan di dalam keluarga maupun masyarakat secara kokoh. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memohon petunjuk agar lisan ini selalu basah dengan zikir dan perkataan yang bermanfaat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


