Bahasa Arab

Taukid Marfū‘

Cara Menguatkan Makna dalam Kalimat Arab

Dalam ilmu nahwu, taukid berfungsi untuk menguatkan makna sebuah kata agar tidak menimbulkan keraguan bagi pendengar. Salah satu bentuk yang sering kita jumpai dalam teks keagamaan adalah taukid marfū‘. Pembahasan ini sangat penting karena banyak ditemukan dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi ﷺ. Dengan pemahaman yang baik, maka kesalahan dalam i‘rab dan pemaknaan dapat kita hindari sedini mungkin.

Pengertian Taukid Marfū‘ secara Sederhana

Secara istilah, taukid merupakan lafaz yang mengikuti kata sebelumnya untuk menegaskan maksudnya. Adapun taukid marfū‘ adalah kata penguat yang mengikuti isim marfū‘ (berharakat dhommah atau tandanya), sehingga kedudukannya dalam i‘rab juga menjadi marfū‘. Oleh karena itu, apabila isim yang ditegaskan berstatus marfū‘, maka kata penguatnya pun harus mengikuti status tersebut secara konsisten.

Mengenal Macam-Macam Taukid

Para ulama nahwu membagi taukid menjadi dua bentuk utama yang perlu kita ketahui bersama. Pertama adalah taukid lafzhi, yaitu penguatan makna dengan cara mengulang lafaz yang sama secara persis. Kedua adalah taukid ma‘nawi, yaitu penegasan menggunakan kata-kata khusus seperti nafsun (diri), ’ainun (diri), kullun (semua), atau jami‘un (seluruh). Fokus kita pada artikel ini adalah bagaimana kata-kata tersebut mengikuti kata sebelumnya yang berkedudukan marfū‘.

Contoh Taukid Marfū‘ dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat jelas dalam kitab suci-Nya mengenai penggunaan taukid. Allah ﷻ berfirman:

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Maka bersujudlah para malaikat itu, semuanya bersama-sama (QS. Al-Hijr: 30).

Pada ayat di atas, kata الْمَلَائِكَةُ berkedudukan marfū‘ sebagai pelaku (fā‘il). Kemudian, kata كُلُّهُمْ dan أَجْمَعُونَ hadir sebagai taukid ma‘nawi yang juga berstatus marfū‘. Susunan ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun malaikat yang tertinggal dalam melaksanakan perintah Allah ﷻ tersebut.

Penerapan Taukid dalam Hadits Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ juga sering menggunakan teknik taukid dalam lisan beliau agar pesan syariat tersampaikan dengan kuat. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-imam (pemimpin) itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya (HR. Bukhari dan Muslim).

Meskipun secara tekstual hadits ini menunjukkan kedudukan imam, penguatan makna sering muncul dalam riwayat lain dengan pengulangan kata. Sebagai contoh, saat beliau menekankan pentingnya nasihat, beliau mengulang kalimatnya untuk memberikan taukid lafzhi agar para sahabat benar-benar memperhatikan urgensi agama.

Kaidah Penting yang Harus Diperhatikan

Ada beberapa poin utama yang harus kita pahami dalam menerapkan kaidah ini. Pertama, taukid selalu mengikuti kata yang ditegaskan dalam segala kondisi i‘rabnya. Selanjutnya, jenis taukid tidak akan mengubah hukum rafa‘ selama isim asalnya memang marfū‘. Selain itu, kita perlu berhati-hati dalam menyesuaikan dhamir (kata ganti) pada taukid ma‘nawi agar sesuai dengan kata sebelumnya. Oleh sebab itu, ketelitian dalam mengenali fungsi kata sangatlah diperlukan bagi setiap penuntut ilmu.

Manfaat Mempelajari Taukid Marfū‘

Apabila kita memahami taukid marfū‘ dengan benar, maka kita dapat menangkap penekanan makna yang mendalam dalam nash syar‘i. Selain itu, kualitas bacaan Al-Qur’an kita akan menjadi lebih tepat dan tartil. Lebih jauh lagi, pemahaman struktur kalimat Arab yang kuat akan memudahkan kita dalam mempelajari kitab-kitab para ulama. Sebagai penutup, taukid marfū‘ merupakan kaidah dasar yang memiliki pengaruh besar dalam menjaga kemurnian makna bahasa Arab.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger